Refleksi Asian Ecumenical Youth Assembly (AEYA) 2026
admin
24 Apr 2026 09:14

Oleh: Rachel Nadine Tapilaha, GPIB.
Mengikuti rangkaian kegiatan dalam Asian Ecumenical Youth Assembly (AEYA) menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya dan memperkaya pemahaman saya tentang kehidupan iman dalam konteks yang lebih luas. Kesempatan untuk bertemu dengan kaum muda dari berbagai utusan gereja dan denominasi yang berbeda dari negara-negara di Asia memberikan ruang bagi saya untuk mendengar beragam cerita tentang pergumulan, harapan, dan pengalaman iman mereka.
Dalam percakapan sehari-hari maupun diskusi kelompok, saya menyadari bahwa meskipun latar belakang budaya dan sosial kami berbeda, banyak kaum muda menghadapi tantangan yang serupa, seperti tekanan hidup, pergumulan pribadi, dan kebutuhan akan komunitas yang dapat menerima mereka dengan tulus. Pengalaman ini membantu saya melihat bahwa gereja sebagai komunitas iman memiliki tanggung jawab yang besar untuk menjadi ruang yang menghadirkan dukungan dan pemulihan bagi kaum muda.
Salah satu materi yang sangat membekas bagi saya adalah pemaparan dari Rev. Dr. Kochurani Abraham tentang Reclaiming the Prophetic Vision of the Household of God. Dalam materi tersebut, ditekankan bahwa panggilan profetis bagi kaum muda tidak hanya berbicara tentang menyampaikan kebenaran, tetapi juga tentang upaya untuk “breaking every yoke” atau melepaskan berbagai bentuk keterikatan yang menindas kehidupan manusia.
Panggilan ini berkaitan dengan upaya menghadirkan kebebasan yang sejati, baik dari keterikatan pribadi maupun dari sistem yang tidak adil. Konsep freedom, fire, and friendship yang disampaikan menjadi gambaran bahwa kehidupan dalam rumah tangga Allah harus ditandai oleh kebebasan untuk bertumbuh, semangat untuk memperjuangkan kebaikan, serta relasi yang saling mendukung sebagai sahabat dalam iman.
Refleksi dari materi ini semakin terasa nyata ketika saya mendengarkan pengalaman dari kaum muda dari berbagai negara yang berbagi tentang kehidupan gereja di tempat mereka. Beberapa di antara mereka menceritakan bagaimana gereja berusaha menjadi ruang yang aman untuk berbagi pengalaman dan pergumulan hidup. Namun, ada juga yang menyampaikan bahwa sebagian kaum muda merasa kesulitan untuk membuka diri di dalam gereja, sehingga mereka mencari ruang lain di luar komunitas gereja untuk berbagi cerita dan mencari dukungan. Mendengar pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa tantangan ini bukan hanya terjadi di satu tempat, tetapi menjadi realitas yang dihadapi oleh banyak komunitas gereja di berbagai konteks.
Pengalaman tersebut mendorong saya untuk merefleksikan realitas gereja di sekitar saya. Dalam beberapa situasi, gereja masih lebih menekankan pada kegiatan yang bersifat formal, sementara kebutuhan emosional dan relasional kaum muda belum sepenuhnya mendapat perhatian. Hal ini dapat menjadi salah satu bentuk “keterikatan” yang secara tidak langsung membatasi ruang bagi kaum muda untuk mengalami kebebasan dan pertumbuhan dalam iman. Jika gereja benar-benar dipanggil sebagai rumah tangga Allah, maka gereja seharusnya menjadi ruang yang memberikan kebebasan untuk bertanya, berbagi pengalaman, serta menghadapi pergumulan hidup secara bersama-sama.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya selama mengikuti rangkaian kegiatan ini adalah keterlibatan dalam sesi Youth in Dialogue yang membahas kesehatan mental dan dilakukan bersama dalam kelompok kecil. Dalam sesi dialog tersebut, saya mendengar banyak kisah nyata tentang pergumulan hidup, tekanan, dan cara setiap individu berjuang menjaga iman di tengah tantangan mental dan emosional. Melalui pertukaran kisah dengan teman-teman dari berbagai negara, saya merasakan keterhubungan yang lebih dalam, tidak hanya dengan sesama, tetapi juga dengan Tuhan.
Saya menyadari bahwa karya Tuhan tidak selalu hadir dalam bentuk yang sesuai dengan harapan atau keinginan pribadi, melainkan nyata dalam setiap pengalaman hidup yang dijalani dan dibagikan bersama. Pengalaman ini menolong saya untuk melihat bahwa iman tidak hanya dibangun melalui pengajaran, tetapi juga melalui kesediaan untuk mendengarkan, berbagi, dan belajar dari perjalanan iman orang lain.
Melalui pengalaman mengikuti assembly ini, saya semakin memahami bahwa kaum muda memiliki peran penting sebagai dynamic force dalam menghadirkan perubahan di tengah komunitas iman. Kaum muda dipanggil untuk memiliki semangat atau fire dalam menjalani panggilan iman, sekaligus membangun relasi persahabatan yang saling menguatkan. Panggilan untuk breaking every yoke menjadi pengingat bahwa kehidupan iman tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan pribadi, tetapi juga dengan memperjuangkan kebebasan, keadilan, dan kehidupan yang bermartabat bagi sesama. Kesadaran akan peran tersebut kemudian membawa saya untuk melihat kembali makna gereja secara lebih luas sebagai ruang yang mendukung panggilan profetis tersebut.
Dalam terang pemahaman tersebut, saya semakin menyadari makna gereja sebagai rumah tangga Allah yang mengemban panggilan profetis di tengah kehidupan bersama. Gereja tidak hanya hadir sebagai tempat berkumpul, tetapi juga sebagai ruang yang menghadirkan kebebasan, pemulihan, serta relasi persahabatan yang tulus, sehingga setiap individu dapat mengalami kasih dan keadilan secara nyata. Pengalaman ini mendorong saya untuk membawa semangat yang telah saya pelajari ke dalam kehidupan bergereja, khususnya dalam upaya menciptakan ruang yang lebih terbuka dan responsif terhadap kebutuhan kaum muda, sehingga mereka dapat bertumbuh sebagai pribadi yang berani, bebas dalam iman, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
Penulis, peserta AEYA 2026 delegasi GPIB Imanuel Cimahi
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
Refleksi PELITA: Perempuan Lintas Iman Perkuat Solidaritas dan Komitme...
JAKARTA, PGI.OR.ID-Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini yang telah membawa terang bagi perempuan Indonesia...
MPH-PGI Terima Kunjungan Pimpinan Sinode GPKB di Grha Oikoumene
JAKARTA,PGI.OR.ID-Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (MPH-PGI) menerima kunjungan p...
Seminar Paskah Nasional V: Sekum PGI Tegaskan Peran Gereja di Tengah K...
PALU, PGI.OR.ID — Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Dr. Darwin Darmawan, M...

