Belajar Mengatur Keuangan di Bulan Ramadan: Pemuda Lintas Iman Berdiskusi Soal Masa Depan Finansial
admin
14 Mar 2026 10:11
JAKARTA,PGI.OR.ID-Sebanyak 27 pemuda dari berbagai latar belakang iman berkumpul dalam suasana Ramadan yang hangat untuk mengikuti Diskusi Ramadan Interfaith Youth Financial Talk & Iftar Gathering yang diselenggarakan oleh BPR PGI dan Temu Kebangsaan Orang Muda, dengan kerja sama bersama Dana Pensiun PGI, PT. Insight Investments Management dan Investasiin, di Grha Oikoumene, pada Sabtu (14/3/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk membangun pemahaman keuangan yang sehat, sekaligus mempererat persaudaraan lintas iman menjelang waktu berbuka puasa.

Suluh T. Raharjo, perencana keuangan dari PT. Insight Investments Management, hadir sebagai pemateri dalam diskusi yang berlangsung. Dia membuka sesi dengan mengajak peserta berdoa bersama, menegaskan bahwa doa bukan sekadar ritual, melainkan cara menata pola pikir dan membangun pengharapan sebelum mengambil tindakan nyata dalam pengelolaan keuangan.
Salah satu benang merah yang menarik dalam pemaparan Suluh adalah kaitan antara nilai ibadah puasa dengan prinsip delayed gratification dalam dunia keuangan. Puasa, menurutnya, melatih pengendalian diri dari hal-hal yang merugikan. Maka itu berpuasa paralel dengan kemampuan menunda kesenangan sesaat demi tujuan yang lebih besar. “Di awal karier, skill lebih penting daripada lifestyle. Fokus pada kompetensi, jaringan, dan perlindungan penghasilan adalah prioritas utama,” tegasnya.
Suluh memperkenalkan Piramida Perencanaan Keuangan yang terdiri dari tiga lapisan. Lapisan paling dasar adalah keamanan keuangan yang mencakup pengelolaan cash flow, pelunasan utang, dan pembentukan dana darurat sebesar 3–6 kali pengeluaran bulanan. Di atasnya, lapisan kenyamanan keuangan meliputi manajemen risiko melalui asuransi dan investasi. Puncak piramida adalah distribusi kekayaan, yang mencakup dana pensiun, penghasilan pasif, warisan, hingga sumbangan.

Dalam hal alokasi anggaran, dia pun menyarankan panduan ideal: pos utang maksimal 35% (dengan utang produktif minimal 20% dan konsumtif maksimal 15%), pos asuransi minimal 10%, pos investasi minimal 10%, dan pos belanja sehari-hari maksimal 45%. Ia menekankan prinsip sederhana namun mendasar: “jangan lebih besar pasak dari tiang.”
Kerangka lain yang diperkenalkan adalah konsep Lima Pohon Kesejahteraan: Pohon Kehidupan (penghasilan), Perlindungan (asuransi), Pertumbuhan (investasi), Pusaka (warisan), dan Keabadian (sumbangan/zakat/persembahan). Kelima pohon ini digambarkan sebagai satu ekosistem yang saling menopang melalui pengelolaan aset yang disiplin dan terencana.
Suluh juga mengajak peserta merefleksikan posisi mereka dalam siklus kehidupan finansial yang dibaginya menjadi empat fase, masing-masing sekitar 7.000 hari: fase tumbuh (0–20 tahun), fase produktif awal (20–40 tahun), fase kemapanan (40–60 tahun), dan masa pensiun (60 tahun ke atas). “Semakin dini seseorang memahami di mana posisinya dalam siklus ini, semakin baik perencanaan keuangan yang dapat disusun,” ujarnya.
Sesi tanya jawab yang mengikuti pemaparan berlangsung interaktif. Fijay, salah satu peserta asal Banten, mengajukan pertanyaan tentang risiko utang produktif ketika usaha mengalami stagnasi.
Suluh menjelaskan bahwa angka 20% utang produktif dalam panduan alokasi adalah patokan, bukan angka mutlak. Ia menyarankan agar pelaku usaha memulai dari modal sendiri terlebih dahulu, memperbesar uang muka untuk meringankan cicilan, dan memperhitungkan dengan matang risiko bleeding di awal usaha sebelum mengambil keputusan berutang.
Diskusi ditutup pukul 18.11 WIB dan dilanjutkan dengan Iftar Gathering bersama. Menutup sesinya, Suluh menyampaikan pesan yang menggugah: memahami instrumen investasi memang penting, tetapi fondasi keuangan yang kokoh,mulai dari disiplin cash flow, dana darurat, hingga perlindungan asuransi, adalah langkah yang harus lebih dahulu dibangun.
“Semua langkah tersebut sebaiknya dilandasi nilai-nilai spiritual dan niat yang baik,” pungkasnya, sekaligus mengingatkan bahwa keuangan yang sehat bukan hanya soal angka, tetapi juga soal karakter. (DF)
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
Ecumenical in Action: PGI Siapkan Pilot Project Pemberdayaan Ekonomi J...
SUMBA BARAT DAYA, PGI.OR.ID— Bidang Keadilan dan Perdamaian Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) ber...
Dorong Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Sekum PGI dan Pimpinan Sinode ...
SUMBA TIMUR, PGI.OR.ID-Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Darwin Darmawan, be...
Sekum PGI di Seminar Ecclesia Domestica STT GKS Sumba: Keluarga adalah...
SUMBA TIMUR, PGI.OR.ID — Sekolah Tinggi Teologi (STT) GKS Sumba menyelenggarakan seminar bertema Ecclesia Do...

