FGD PGI Bersama PELKESI dan YAKKUM Dorong Transformasi Pelayanan Kesehatan Kristen Melalui Penguatan Tata Kelola, Filantropi, dan Kolaborasi
admin
31 Jul 2026 21:12
YOGYAKARTA, PGI.OR.ID — Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) bersama Persekutuan Lembaga-Lembaga Pelayanan Kesehatan Kristen Indonesia (PELKESI) dan Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (YAKKUM) akan menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Transformasi Pelayanan Kesehatan Kristen Indonesia: Membangun Tata Kelola, Filantropi, dan Kolaborasi Pelayanan Kesehatan Berbasis Nilai-nilai Kristiani” pada Jumat, 31 Juli 2026, di Auditorium RS Bethesda, Yogyakarta.
Kegiatan yang diprakarsai Bidang Kesaksian dan Keutuhan Ciptaan PGI, Biro Penelitian dan Pengembangan (Litbang) PGI, serta Komisi Kesehatan dan Disabilitas PGI ini menjadi ruang bersama bagi gereja, yayasan, rumah sakit, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan arah baru pelayanan kesehatan Kristen di Indonesia di tengah perubahan besar yang terjadi dalam sektor kesehatan nasional. FGD ini diikuti oleh lebih dari 50 peserta yang terdiri atas perwakilan sinode gereja yang memiliki lembaga Kesehatan anggota PELKESI, pengurus yayasan kesehatan Kristen, manajemen rumah sakit dan lembaga kesehatan Kristen, serta pimpinan PGI, PELKESI, dan YAKKUM.

Sekretaris Umum PGI, Pdt. Darwin Darmawan dalam pengantar FGD menyatakan bahwa ada dua hal yang dilakukan Yesus dalam pelayanannya, yaitu mengajar dan menyembuhkan. Atas dasar itulah, gereja pun mendirikan lembaga/yayasan pendidikan dan kesehatan. Sayangnya, banyak lembaga kesehatan Kristen termasuk rumah sakit yang saat ini mengalami kondisi yang semakin menurun, bahkan tutup. “Dengan dipertemukannya sinode-sinode gereja pemilik yayasan kesehatan dalam forum diskusi ini, kita berharap tata kelola yayasan kesehatan Kristen akan semakin baik, terjalin kolaborasi, dan terwujud transformasi lembaga kesehatan Kristen sehingga dapat menjadi berkat bagi lebih banyak orang,” paparnya.

FGD ini dilaksanakan sebagai respons atas dinamika sektor kesehatan saat ini yang menyebabkan tantangan yang semakin kompleks. Padahal, selama lebih dari satu abad, pelayanan kesehatan telah menjadi bagian penting dari kesaksian gereja di Indonesia. Kehadiran rumah sakit, klinik, balai pengobatan, lembaga rehabilitasi, hingga institusi pendidikan tenaga kesehatan menunjukkan komitmen gereja dalam menghadirkan karya penyembuhan, pemulihan, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Perubahan sistem kesehatan nasional, implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), perkembangan teknologi kesehatan, meningkatnya kebutuhan investasi, hingga persaingan yang semakin ketat menuntut lembaga kesehatan Kristen untuk terus bertransformasi. Berbagai tantangan tersebut tidak hanya menyangkut aspek operasional dan pembiayaan, tetapi juga menyentuh persoalan tata kelola, pengembangan sumber daya manusia, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan strategis.

Karena itu, FGD ini diarahkan untuk mengidentifikasi tantangan dan peluang transformasi tata kelola lembaga kesehatan Kristen, sekaligus merumuskan strategi penguatan filantropi, kepemilikan gerejawi, dan kolaborasi lintas lembaga guna memastikan keberlanjutan pelayanan kesehatan Kristen di masa mendatang. Dalam forum ini, para peserta mendiskusikan berbagai persoalan mendasar, mulai dari tantangan tata kelola lembaga kesehatan pada tingkat yayasan, sinode, maupun rumah sakit, hingga bagaimana membangun tata kelola yang profesional, transparan, akuntabel, dan tetap berakar pada nilai-nilai Kristiani melalui pendekatan value-based health care. Forum juga akan membahas upaya menghidupkan kembali filantropi kesehatan Kristen sebagai kekuatan historis yang selama ini menopang pertumbuhan lembaga-lembaga kesehatan gereja, sekaligus memperkuat rasa memiliki (sense of ownership) warga gereja terhadap pelayanan kesehatan.
Forum ini diharapkan dapat memetakan isu-isu prioritas transformasi pelayanan kesehatan Kristen, merumuskan strategi revitalisasi filantropi dan penguatan rasa memiliki gereja terhadap lembaga kesehatan, mengembangkan model kolaborasi antarlembaga, serta menyusun agenda transformasi yang dapat diwujudkan secara bersama. Selain itu, diharapkan tergali model kolaborasi yang mampu memperkuat independensi sekaligus keberlanjutan lembaga kesehatan Kristen. Kerja sama antara gereja, sinode, yayasan, lembaga kesehatan, institusi pendidikan, pemerintah, BPJS Kesehatan, serta mitra strategis lainnya dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk memperluas dampak pelayanan tanpa kehilangan identitas pelayanan kesehatan Kristen.

Sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang berbagi perspektif mengenai arah transformasi tersebut. Dr. Dyah Hapsari Prananingrum, S.H., M.Hum., dosen Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana memaparkan pendekatan value-based health care sebagai fondasi transformasi pelayanan kesehatan Kristen. Ketua Umum PELKESI, dr. Daniel Budi Wibowo, M.Kes., FISQua mengulas potensi filantropi sebagai sumber daya strategis bagi keberlanjutan rumah sakit Kristen, sementara Direktur Rumah Sakit Immanuel Bandung, Dr. David Santoso, M.M., membahas strategi pengelolaan rumah sakit di tengah ketidakpastian implementasi JKN.

Pembahasan diperdalam melalui diskusi kelompok yang berfokus pada tiga isu utama, yaitu penguatan tata kelola berbasis value-based health care, revitalisasi filantropi kesehatan, serta strategi menjaga keberlangsungan rumah sakit Kristen. Hasil diskusi tersebut menjadi bahan penyusunan rekomendasi bersama yang diharapkan dapat ditindaklanjuti oleh gereja dan lembaga kesehatan. Sebagai forum yang bersifat partisipatif, hasil setiap kelompok diskusi dipresentasikan dalam sidang pleno untuk diperkaya bersama sebelum dirumuskan menjadi rekomendasi tindak lanjut. Rekomendasi tersebut diharapkan menjadi pijakan bersama dalam melangkah membangun transformasi pelayanan kesehatan Kristen yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus tetap setia pada panggilan gereja sebagai pelayan kehidupan.

Forum ini juga menghadirkan praktik-praktik baik transformasi pelayanan kesehatan Kristen. Chris Kanter dari Yayasan Kesehatan (YAKES) PGI membagikan pengalaman mengenai pentingnya kolaborasi sebagai jalan transformasi pelayanan kesehatan Kristen dan kisah sukses revitalisasi RS PGI Cikini. Sementara itu, perwakilan YAKKUM memperkenalkan Program Biji Sesawi sebagai contoh praktik baik filantropi kesehatan berbasis gereja (church-based philanthropy) yang telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Berangkat dari semangat oikoumene in action, FGD ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya komitmen kolektif untuk memperkuat tata kelola, memperluas jejaring kemitraan, dan memastikan pelayanan kesehatan Kristen tetap relevan, berkelanjutan, serta menghadirkan karya penyembuhan, pemulihan, dan kasih Allah bagi masyarakat Indonesia. (EDP)
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
FGD PGI Bersama PELKESI dan YAKKUM Dorong Transformasi Pelayanan Keseh...
YOGYAKARTA, PGI.OR.ID — Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) bersama Persekutuan Lembaga-Lembaga Pel...
Lantik Pengurus PGIW Lampung Periode Baru dalam Sidang Umum VII, Wasek...
BANDAR LAMPUNG, PGI.OR.ID – Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah (PGIW) Lampung resmi menggelar Si...
Sekum PGI Lantik Pengurus PPKS-PGI Masa Bakti 2026-2031, Awali Pelayan...
JAKARTA,PGI.OR.ID-Sekretaris Umum PGI, Pdt. Darwin Darmawan melantik Pengurus Pusat Pelayanan Kesejahteraan So...

