Preloader
PGI.OR.ID

Alamat

Jalan Salemba Raya No. 10
Jakarta Pusat (10430)

Hotline

021-3150451

021-3150455

021-3908118-20

Alamat Email

mailto:info@pgi.or.id

Ketua Umum PGI Bekali 50 Pemuda Lintas Iman Bangun Kepeloporan Sosial, Hingga Belajar dari Eks Napiter yang Jadi Tokoh Perdamaian di Poso

Thumbnail
Author

admin

24 Jul 2026 11:09

Share:

POSO, PGI.OR.ID-Perubahan besar sering kali berawal dari langkah-langkah kecil. Semangat itulah yang dihidupi para peserta Live-in Interfaith: Tanah Air itu Bhinneka (TAB) Angkatan VII dalam sesi Membangun Kepeloporan dan Perubahan Sosial yang berlangsung di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Melalui sesi ini, para peserta dibekali pemahaman tentang bagaimana menjadi pelopor perubahan di tengah masyarakat. Mulai dari membangun gerakan di tingkat akar rumput (grassroots), memperkuat kolaborasi lintas iman, mengembangkan komunitas, mendorong advokasi kebijakan, hingga menghadirkan aksi-aksi nyata yang mampu menjawab persoalan sosial di lingkungan masing-masing.

 

Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn F. Manuputty, menjadi salah satu narasumber dalam sesi tersebut pada Rabu, 22 Juli 2026. Ia mengajak para peserta melihat kepeloporan bukan hanya dari sisi kepemimpinan, tetapi juga sebagai keberanian menghadirkan perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pemaparannya, ia mengulas berbagai bentuk kepeloporan, mulai dari kepeloporan sosial-politik, advokasi, pelestarian lingkungan, hingga gerakan lintas iman. Namun, alih-alih hanya menyampaikan teori, ia memilih berbagi pengalaman nyata melalui kisah-kisah inspiratif.

"Kami ingin memperkaya imajinasi teman-teman muda lewat cerita-cerita kehidupan. Bagaimana seseorang bisa bertransformasi, membangun integritas, konsisten dengan nilai-nilai yang diyakini, lalu menghadirkan perubahan di tengah masyarakat," ujarnya. Salah satu kisah yang dibagikan adalah perjalanan seorang mantan kombatan konflik Poso yang berhasil mengubah hidupnya menjadi pegiat perdamaian. Menurutnya, pengalaman seperti itu menjadi bukti bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah dan menjadi pelopor bagi lingkungannya. Pdt. Jacklevyn juga mengapresiasi keberagaman peserta TAB VII yang berasal dari berbagai agama, kepercayaan, budaya, dan daerah di Indonesia. "Ada peserta dari agama Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Ahmadiyah, penghayat kepercayaan, juga dari Papua, Sumatra, Karo, Poso, dan berbagai daerah lainnya. Pengalaman mereka bertemu, hidup bersama, lalu menjadi sahabat jauh lebih penting daripada sekadar berdiskusi tentang isu-isu tertentu. Relasi antarmanusia adalah jangkar yang paling kuat untuk membicarakan perbedaan dengan damai," katanya.

Pdt. Dora Balubun yang juga menjadi narasumber, ia membawakan materi mengenai Asset-Based Community Development (ABCD) atau pengembangan masyarakat berbasis aset. Ia menjelaskan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari bantuan luar. Justru, setiap komunitas memiliki kekuatan yang bisa dikembangkan bersama. "Orang muda perlu belajar melihat aset yang dimiliki masyarakatnya. Bisa berupa sumber daya manusia, budaya, masyarakat adat, jaringan sosial, maupun potensi lokal lainnya. Dari situlah perubahan dibangun bersama masyarakat," jelasnya. Menurutnya, pendekatan tersebut akan membuat masyarakat lebih mandiri karena kekuatan yang dibangun berasal dari dalam komunitas itu sendiri. Ia berharap setelah kembali ke daerah masing-masing, para peserta tidak hanya membawa pengalaman, tetapi juga mampu membangun komunitas yang semakin inklusif dan memperkuat semangat Bhinneka Tunggal Ika. "Saya berharap mereka tidak lagi melihat perbedaan sebagai penghalang, tetapi sebagai kekuatan untuk membangun kehidupan bersama," tuturnya. Di akhir sesinya, Pdt. Dora menyampaikan apresiasi kepada PGI bersama Kemitraan PGI–PKN yang telah mempertemukan anak-anak muda lintas iman dalam ruang belajar bersama seperti Live-in Interfaith TAB.

Salah satu sesi yang paling menyentuh datang dari Arifuddin Lako, tokoh perdamaian asal Poso yang pernah menjadi narapidana terorisme. Di hadapan para peserta, ia membagikan perjalanan hidupnya yang pernah terlibat dalam konflik Poso hingga akhirnya memilih kembali ke masyarakat dan membangun komunitas perdamaian bersama para pemuda. Kini, Arifuddin aktif mengampanyekan perdamaian, berkarya sebagai sutradara film, sekaligus menjalankan usaha mandiri. Ia mengaku senang melihat anak-anak muda dari berbagai daerah dan latar belakang agama berkumpul dalam satu ruang untuk saling belajar. "Kegiatan seperti ini sangat baik karena teman-teman muda bisa saling bertukar pengalaman, memahami daerah masing-masing, dan belajar melihat perbedaan sebagai kekuatan," ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa keberagaman merupakan kehendak Tuhan. "Kita diciptakan berbeda-beda supaya saling mengenal. Kalau justru karena perbedaan kita saling membenci atau menghancurkan, berarti kita sedang mengingkari tujuan Tuhan menciptakan keberagaman," pesannya.

Salah seorang peserta, Angelia Dyah Sukmarini dari Sinode Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan (GKSBS), mengaku mendapatkan banyak pembelajaran pada hari ketiga kegiatan. Menurutnya, materi yang disampaikan Ketua Umum PGI membuka pandangannya mengenai pentingnya peran generasi muda sebagai pelopor perubahan sosial. "Pemuda memiliki peran besar untuk membangun perdamaian, mencegah konflik, dan memperkuat persatuan. Terlebih di daerah pascakonflik seperti Poso, kami belajar bahwa anak muda bukan hanya penerus, tetapi juga agen perubahan yang mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat," katanya. Ia berharap semangat tersebut dapat terus dibawa pulang dan diterapkan di daerah asal masing-masing.

Sementara itu, Kepala Biro Pemuda dan Remaja PGI, Pdt. Rosiana Purnomo, mengatakan hari ketiga menjadi salah satu sesi yang paling berkesan karena menghadirkan tokoh yang mengalami langsung sejarah konflik Poso. Menurutnya, pengalaman tersebut memberi perspektif baru kepada peserta tentang bagaimana seseorang dapat bertransformasi dari masa lalu yang kelam menjadi pembawa damai. Selain itu, pada sesi pagi peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai pengembangan komunitas berbasis aset sebagai bekal menyusun rencana tindak lanjut setelah kembali ke daerah masing-masing. Pdt. Rosiana juga melihat perubahan yang menarik dari dinamika para peserta. "Setelah mengikuti analisis sosial pada hari sebelumnya, mereka menjadi jauh lebih terbuka. Sekarang sudah lebih akrab, lebih banyak berdiskusi, saling bercanda, dan tidak lagi canggung satu sama lain. Persahabatan mereka tumbuh semakin kuat," ujarnya.

Melalui sesi “Membangun Kepeloporan dan Perubahan Sosial”, PGI berharap para peserta Live-in Interfaith TAB VII tidak hanya pulang dengan pengetahuan baru, tetapi juga membawa semangat menjadi pelopor perdamaian yang mampu membangun komunitas, merawat keberagaman, dan menghadirkan perubahan positif di tengah masyarakat Indonesia.  (BRNDS)

Berikan Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *

Komentar *
Nama Lengkap *
Email *
Website
(optional)

Berita & Peristiwa
Sambangi PGI, Sekjen CCA Lakukan Dialog dengan Pimpinan Sinode Gereja....
by admin 24 Jul 2026 20:28

JAKARTA,PGI.OR.ID-Di sela-sela kegiatan Federation of Asian Bishop Conference (FABC) yang berlangsung di Jaka...

Ketua Umum PGI Bekali 50 Pemuda Lintas Iman Bangun Kepeloporan Sosial,...
by admin 24 Jul 2026 11:09

POSO, PGI.OR.ID-Perubahan besar sering kali berawal dari langkah-langkah kecil. Semangat itulah yang dihidupi ...

Dari Masyarakat Poso, 50 Peserta Live-in Interfaith TAB VII Perdalam A...
by admin 24 Jul 2026 08:23

POSO, PGI.OR.ID-Memasuki hari kedua pelaksanaan Live-in Interfaith: Tanah Air itu Bhinneka (TAB) Angkatan VII ...