Ketum PGI Kunjungi Mbay, Dorong Gereja Belajar dari Bencana dan Perkuat Kesiapsiagaan
admin
19 Aug 2026 16:28
Mbay, NTT, PGI.OR.ID — Kunjungan Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn Manuputty, ke sejumlah wilayah terdampak gempa di Flores sejak 16 Agustus 2026 merupakan bagian dari perjalanan pastoral dan solidaritas PGI bersama masyarakat serta gereja-gereja setempat. Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Pdt. Jacklevyn hadir untuk melihat langsung kondisi warga terdampak, mendengarkan kebutuhan mereka, serta memastikan dukungan dan solidaritas gereja-gereja di Indonesia hadir di tengah situasi bencana yang masih berlangsung.
Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Labuan Bajo, Pdt. Jacklevyn menyempatkan diri menyambangi Mbay, Kabupaten Nagekeo, salah satu wilayah yang berada dekat dengan episentrum gempa. Kunjungan ini menjadi penegasan kehadiran gereja bersama umat yang sedang menderita sekaligus ruang untuk belajar dari pengalaman masyarakat dan gereja dalam menghadapi bencana.
Pdt. Jacklevyn mengunjungi sejumlah lokasi pengungsian, melihat langsung kondisi warga terdampak, mendengarkan cerita serta kebutuhan mereka, dan turut menyerahkan bantuan bahan makanan kepada masyarakat. Kehadiran tersebut menegaskan bahwa dalam situasi bencana, gereja tidak berdiri jauh dari penderitaan umat. Gereja hadir untuk melihat, mendengar, menemani, dan berjalan bersama mereka.
Sebelum melanjutkan perjalanan, Pdt. Jacklevyn berdialog dengan Wakil Ketua Sinode GMIT, Pdt. Saneb Blegur, yang didampingi Ketua Klasis Flores Lembata dan Ketua Klasis Flores Barat. Percakapan tersebut tidak hanya membahas situasi tanggap darurat, tetapi juga mengangkat satu pembelajaran penting bagi gereja: bencana harus menjadi ruang belajar untuk semakin mampu mengelola risiko.

Bagi GMIT, pengalaman menghadapi bencana bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Peristiwa Seroja dan erupsi Lewotobi telah memberikan pembelajaran penting mengenai bagaimana gereja mempersiapkan diri dan merespons situasi krisis. Namun, gempa yang terjadi kali ini kembali mengingatkan bahwa pengalaman tidak boleh berhenti menjadi ingatan. Pengalaman harus diolah menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi kapasitas, dan kapasitas menjadi kesiapsiagaan. “Berdasarkan pengalaman ini, bagi GMIT sendiri tidak ada alasan untuk tidak belajar mengelola bencana,” ujar Pdt. Saneb Blegur.
Menurutnya, pembelajaran tersebut harus dimulai dengan memperkuat koordinasi pada seluruh tingkatan pelayanan, mulai dari sinode, klasis hingga jemaat. Koordinasi yang kuat akan meningkatkan kualitas intervensi sekaligus memastikan bahwa gereja dapat merespons kebutuhan masyarakat secara lebih cepat, tepat, dan terarah. Bencana, menurutnya, juga menjadi pengingat bagi gereja-gereja di Indonesia untuk tidak lagi melihat pengurangan risiko bencana sebagai sesuatu yang berada di luar panggilan gereja. Ancaman bencana terus membayangi kehidupan masyarakat. Karena itu, gereja perlu meningkatkan kapasitasnya agar mampu bersiap sebelum bencana terjadi, merespons ketika bencana berlangsung, dan mendampingi masyarakat dalam proses pemulihan.

Dari Merespons Bencana Menuju Mengelola Risiko
Pengalaman di Flores memperlihatkan bahwa respons bencana yang baik tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat bantuan datang, tetapi juga oleh seberapa baik gereja mampu mengorganisasi dirinya. Salah satu pembelajaran penting yang muncul adalah pendirian pos terpadu. Bagi Pdt. Saneb Blegur, pos terpadu yang dibangun melalui jejaring oikumenis terbukti efektif dan efisien. Tujuan respons dapat dicapai tanpa menguras energi masing-masing pihak karena pekerjaan dibagi berdasarkan peran dan kapasitas.
“Tujuannya tercapai, tetapi energi tidak terkuras,” ujarnya. Sebelumnya, GMIT cenderung menangani respons bencana sendiri. Namun, melalui dukungan jejaring oikumenis PGI, Jakomkris, dan berbagai lembaga oikumenis lainnya, pembagian peran menjadi lebih jelas. Gereja tidak harus melakukan semuanya sendiri. Setiap pihak dapat mengambil bagian sesuai kapasitasnya dan bersama-sama diarahkan pada tujuan yang sama, yaitu memenuhi hak dan kebutuhan para penyintas selama masa tanggap darurat. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa oikumene memiliki kekuatan yang sangat nyata dalam situasi bencana. Oikumene bukan hanya tentang berjalan bersama dalam iman, tetapi juga tentang bekerja bersama ketika kehidupan sedang berada dalam ancaman.
Pengalaman Pertama, Pembelajaran yang Berharga
Pembelajaran tersebut juga dirasakan langsung oleh Pdt. Mega, Ketua Klasis Flores Barat. Klasis Flores Barat meliputi lima kabupaten, yakni Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai, dan Manggarai Barat. Pusat gempa berada di Mbay, Kabupaten Nagekeo.
Bagi Pdt. Mega, menghadapi gempa dengan kekuatan sebesar ini merupakan pengalaman pertama. Kepanikan, ketakutan, dan kecemasan dirasakan oleh masyarakat maupun gereja. Namun, di tengah situasi tersebut, solidaritas bergerak dengan cepat. Doa dan dukungan datang dari berbagai pihak. Gereja kemudian mulai melakukan koordinasi dan mengambil langkah konkret dengan membentuk dua pos terpadu, yakni Pos Terpadu Bajawa dan Pos Terpadu Ruteng. Pos Terpadu Ruteng secara khusus melayani wilayah Manggarai, terutama Reok yang menjadi salah satu wilayah terdampak cukup berat.

“Ini pengalaman pertama kami mengelola pos terpadu,” ungkap Pdt. Mega. Pembentukan pos terpadu diawali melalui koordinasi bersama dengan menentukan lokasi yang relatif dekat dengan wilayah terdampak, tetapi tetap aman dan tidak terdampak langsung oleh gempa.
Relawan berasal dari berbagai unsur, antara lain pemuda, GAMKI, serta jemaat Imanuel Ruteng dan Ebenhaezer Bajawa. Mereka mengambil bagian dalam berbagai kebutuhan, termasuk pengemasan dan distribusi bantuan. Dukungan tenaga multimedia juga masih dibutuhkan untuk memperkuat pengelolaan informasi dan komunikasi. Namun, tantangan di lapangan masih cukup besar. Keterbatasan transportasi menjadi salah satu persoalan utama, demikian pula kebutuhan layanan kesehatan. Sejumlah jemaat di Reok mulai mengalami diare, demam, sakit kepala, dan keluhan kesehatan lainnya. Keterbatasan tenda juga membuat kebutuhan tempat tinggal sementara menjadi persoalan yang perlu segera ditangani. Karena merupakan pengalaman pertama dalam mengelola pos terpadu, peningkatan kapasitas menjadi salah satu pembelajaran penting bagi gereja.
Sejak hari pertama, koordinasi dan dukungan telah dilakukan oleh Biro Pengurangan Risiko Bencana (PRB) PGI dan Sinode GMIT. Pendampingan dilakukan secara daring maupun melalui kunjungan langsung ke lapangan, termasuk melalui kehadiran Pdt. Jacklevyn Manuputty dan pimpinan Sinode GMIT. Kehadiran tersebut bukan hanya memperkuat respons, tetapi juga menjadi bagian dari proses belajar bersama: bagaimana gereja mengorganisasi sumber daya, membagi peran, membaca kebutuhan, dan membangun sistem yang lebih siap menghadapi bencana berikutnya.
Di Flores Timur, Respons Tetap Diperkuat
Di wilayah timur Flores, dampak gempa relatif tidak seberat wilayah Flores Barat. Pdt. Imanuel, Ketua Klasis Flores Timur, menjelaskan bahwa wilayah pelayanannya meliputi Ende, Sikka, Flores Timur, dan Lembata. Meskipun dampak yang dirasakan relatif lebih ringan, gereja tetap mengambil langkah respons. Satu Pos Terpadu Maumere didirikan di bawah koordinasi Sinode GMIT. Pos tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan respons gereja tetap terkoordinasi dan kebutuhan masyarakat dapat ditangani secara terarah.
_1787133130.jpeg)
Perbedaan tingkat dampak di antara wilayah-wilayah tersebut juga menjadi pembelajaran bahwa setiap konteks membutuhkan pendekatan yang berbeda. Gereja perlu mampu membaca risiko, memahami kerentanan masyarakat, serta menyesuaikan bentuk intervensinya dengan kebutuhan masing-masing wilayah.
“Terima Kasih untuk Bantuan dan Doanya”
Di tengah situasi pengungsian dan ketidakpastian yang masih dirasakan warga, Oma Lintje Carolina menyampaikan rasa terima kasih kepada gereja-gereja di Indonesia yang telah membantu dan mendoakan mereka.
“Terima kasih banyak atas bantuan yang diberikan dan doanya untuk kami semua.” Ucapan sederhana itu membawa makna yang dalam. Bagi Oma Lintje dan warga terdampak, bantuan yang datang bukan hanya soal bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari. Di dalamnya ada pesan bahwa mereka tidak sendiri dan tidak dilupakan.
_1787133199.jpeg)
Doa dari gereja-gereja di berbagai penjuru Indonesia menjadi kekuatan bagi mereka untuk bertahan dan melewati masa sulit. Jarak boleh memisahkan, tetapi kepedulian gereja membuat mereka merasa tetap menjadi bagian dari satu keluarga. Kesaksian Oma Lintje menjadi pengingat bahwa di tengah bencana, kehadiran gereja bukan hanya tentang apa yang diberikan, tetapi tentang kesediaan untuk hadir, menemani, dan berjalan bersama mereka yang sedang menderita.
Bencana sebagai Ruang Belajar Gereja
Pengalaman di Flores memperlihatkan bahwa bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan dan penderitaan. Bencana juga menghadirkan kesempatan bagi gereja untuk bercermin dan bertanya: apa yang harus kita pelajari agar menjadi lebih siap ketika bencana berikutnya datang?
Seroja mengajarkan sesuatu. Lewotobi memberikan pengalaman lain. Gempa Flores kembali menambahkan pelajaran baru. Jika pengalaman-pengalaman tersebut hanya berhenti sebagai catatan sejarah, gereja akan terus mengulang kesalahan yang sama. Namun, jika pengalaman diolah menjadi pembelajaran, gereja dapat tumbuh menjadi komunitas yang semakin siap, tangguh, dan mampu mengelola risiko.

Karena itu, pengurangan risiko bencana bukan sekadar pekerjaan teknis. Ia merupakan bagian dari panggilan gereja untuk menjaga kehidupan. Gereja perlu belajar membaca ancaman, memahami kerentanan, memperkuat kapasitas, membangun koordinasi, dan menciptakan jejaring sebelum bencana terjadi. Ketika bencana datang, gereja tidak lagi bergerak dari kepanikan, tetapi dari kesiapan. Ketika gereja-gereja memilih untuk bekerja bersama, kekuatan yang dimiliki menjadi jauh lebih besar.
Perjalanan pastoral dan solidaritas Pdt. Jacklevyn Manuputty ke wilayah terdampak sejak 16 Agustus 2026, termasuk kunjungannya ke Mbay sebelum melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo, menjadi pengingat bahwa kehadiran gereja tidak berhenti pada pemberian bantuan. Kehadiran itu juga berarti belajar bersama umat dari pengalaman penderitaan agar gereja menjadi lebih siap menjaga kehidupan di masa depan.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan lagi apakah bencana akan datang, tetapi apakah gereja sudah belajar dari bencana yang telah terjadi. Sebab, gereja yang belajar dari bencana bukan hanya gereja yang lebih siap menghadapi krisis. Gereja itu sedang membangun sebuah cara baru untuk menjaga kehidupan: dengan kesiapsiagaan, solidaritas, dan kekuatan oikumene. Bencana boleh mengguncang kehidupan, tetapi melalui pembelajaran dan kebersamaan, gereja dapat menumbuhkan ketangguhan. (ST-EDP)
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
Ketum PGI Kunjungi Mbay, Dorong Gereja Belajar dari Bencana dan Perkua...
Mbay, NTT, PGI.OR.ID — Kunjungan Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn Man...
GMIT | LAPORAN SITUASI 3 GEMPA BUMI FLORES, NTT
GMIT | LAPORAN SITUASI 3 GEMPA BUMI FLORES, NTT Gempa bumi M7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Ti...
Perkuat Solidaritas Oikoumene, Ketua Umum PGI Turun Langsung ke Wilaya...
FLORES, PGI.OR.ID — Dua hari setelah gempa bumi besar mengguncang Flores dan sejumlah wilayah di Nusa Tengga...

