Pembukaan Konas Perempuan Gereja 2026; Menentukan Langkah Bersama di Tengah Tantangan Polikrisis
admin
05 Nov 2026 11:50
SIPOHOLON,PGI.OR.ID-Pembacaan akta serta pemukulan gong oleh Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty, menandai pembukaan secara resmi Konsultasi Nasional (Konas) Perempuan Gereja 2026, di Auditorium HKBP (Seminarium Sipoholon), Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada Rabu (4/11/2026).
PGI menggelar Konas Perempuan Gereja 2026 bersama Sinode Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) sebagai tuan dan nyonya rumah. Konas akan berlangsung selama tiga hari (4-6/11), dengan mengusung tema Hiduplah sebagai Terang yang Membuahkan Kebaikan, Keadilan dan Kebenaran (Efesus 5:8b–9), dan sub tema Perempuan Gereja Di Tengah Polikrisis: Menjadi Agen, Menggerakkan Solidaritas Dan Transformasi.

Selain peserta, turut hadir dalam pembukaan antara lain, Ephorus HKBP Pdt. Dr. Victor Tinambunan, Sekjen HKBP Pdt. Rekson Mangapul Hutahaean, Wasekum PGI Pdt. Lenta Enni Simbolon, Bupati Tapanuli Dr. Jonius Taripar P. Hutabarat, dan perwakilan Forkopimda Taput.
Pembukaan konas yang dirangkai dalam ibadah, diawali prosesi barisan panjang para pelayan ibadah, praeses, puncuk pimpinan HKBP, MPH-PGI, Panitia Konas Perempuan Gereja 2026, serta perwakilan pemerintah daerah, menuju ruangan, yang disambut dengan tarian serta musik tradisional Batak.

Dalam sambutannya Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty menegaskan bahwa menjadi “anak-anak terang” bukan hanya berbicara tentang harapan, tetapi tentang keberanian untuk melihat realitas dengan jujur, mengenali apa yang menghasilkan kehidupan maupun apa yang melukai kehidupan, serta mengambil bagian dalam menghadirkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran.
"Atas dasar itulah Konsultasi Nasional Jaringan Perempuan Gereja 2026 diselenggarakan sebagai ruang perjumpaan, pembelajaran, refleksi iman dan discernment bersama untuk membaca realitas perempuan di tengah polikrisis serta menentukan langkah bersama sebagai gereja," tandasnya.
Saat ini, lanjut Pdt. Jacky Manuputty, kita menghadapi realitas polikrisis. Sejumlah lembaga mencatat bahwa perempuan dan anak, lansia, penyadang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya, kerap menanggung beban paling berat di tengah krisis ini. Sementara akses mereka terhadap perlindungan dan pengambilan keputusan masih terbatas. “Namun saya ingin menegaskan bahwa perempuan bukan hanya korban krisis, mereka juga subjek, pemimpin, penggerak komunitas, pembangun perdamaian, dan juga penjaga kehidupan,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Pdt. Dr. Victor Tinambunan. Dia melihat penyelenggaran konas di tengah berbagai krisis yang kini ada, semisal peperangan, ketidakadilan, kemiskinan, serta krisis kemanusiaan. "Sepintas mengakibatkan kita hilang harapan dan prustasi. Tetapi sebagai orang percaya kita tetap berpegang kepada Tuhan bahwa Dia yang pegang kendali atas sejarah. Kegelapan bukan kata akhir bagi kehidupan," ujarnya.
Sebab itu, menurutnya, lebih baik menyalakan pelita daripada mengutuki kegelapan. "Biarlah terang Kristus melalui kehidupan kita. Olehnya kita menghadirkan pengharapan, dan melakukan kasih di tengah dunia," ungkapnya.
Ephorus HKBP juga menyinggung soal keberadaan perempuan dan laki-laki, yang menurutnya memiliki harkat dan martabat yang sama sebagai ciptaan, dan keduanya sama di mata Tuhan. “Kehadiran perempuan patut disyukuri karena berdasarkan hasil penelitian ada hubungannya antara keterwakilan perempuan dalam tingkat korupsi. Hasil kajian UI menemukan faktor yang membuat perempuan terhindar korupsi yaitu moral dan integritas," tandasnya.

Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Arifatul Choiri Fauzi dalam sambutannya melalui zoom, memberi apresiasi kepada PGI melalui Biro Perempuan dan Sinode HKBP yang telah melaksanakan kegiatan konas. Dia pun mengapresiasi 3 topik penting dari konas yaitu Suara Kepemimpinan dan Ruang Keputusan, Gereja yang Aman dan Inklusif, serta Perawatan, Kehidupan dan Ketahanan di Tengah Polikrisis. Termasuk 5 tindakan aksi.
Dia berharap konas tersebut dapat menghasilkan perobahan nyata. Karena situasi saat ini yang sedang menghadapi krisis yang terjadi bersamaan mulai dari perobahan iklim, bencana, kekerasan berbasis gender hingga perobahan teknologi. “Karena itu pemberdayaan perempuan harus diwujudkan melalui kesempatan saat ini untuk memperoleh akses berpartisipasi, memilih kendali, dan menikmati manfaat pembangunan. Sebab itu hal penting yang harus dilakukan, di antaranya memperkuat kepemimpinan dan ruang pengambil keputusan, mewujudkan gereja, keluarga, dan komunitas yang aman dan inklusif. Perempuan bukan hanya bagian dari perobahan melainkan penggerak perobahan,” tandasnya.
Sedangkan Bupati Tapanuli Utara Dr. Jonius Taripar P. Hutabarat, melihat bahwa penyelenggaraan konas tidak sekadar pertemuan biasa, namun menjadi momentum persaudaraan lintas gereja dan wilayah. Gereja memiliki peran penting dalam kehidupan masyakarat dan bangsa.

Sebelumnya, Ketua Panitia Konas Perempuan Gereja 2026, Sandra Sidabutar, dalam sambutannya menyampaikan seluruh peserta serta pihak-pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Diinformasikan bahwa seluruh peserta yang mengikuti konas tercatat sebanyak 160 orang yang berasal dari 40 sinode gereja anggota PGI, 4 PGIW, serta lembaga mitra.
Konas Perempuan Gereja 2026 dirancang sebagai ruang konsultasi dan konsolidasi, bukan sekadar konferensi atau rangkaian seminar. Suara dari berbagai wilayah dan generasi akan dipertemukan dengan pengalaman nyata di lapangan, dibaca bersama, direfleksikan secara teologis, kemudian diolah menjadi tiga prioritas bersama dan maksimal lima aksi strategis yang dapat dilaksnakan dan dipantau.
Pada kesempatan ini peserta tidak hanya berdiskusi tetapi juga melakukan kunjungan (eksposure) ke lima tempat yaitu Sekolah Diakonis, Sekolah Tinggi Guru Huria, Sekolah Bibelvrouw, Kelompok Tenun Tarutung, dan Hepata-Laguboti. Kegiatan ini merupakan bagian dari proses pembelajaran, bukan kegiatan wisata. (MS)
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
Pembukaan Konas Perempuan Gereja 2026; Menentukan Langkah Bersama di T...
SIPOHOLON,PGI.OR.ID-Pembacaan akta serta pemukulan gong oleh Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty, m...
Hadiri Sidang Tahunan KWI, PGI Serukan Semangat Oikoumenisme untuk Mer...
JAKARTA, PGI.OR.ID – Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Darwin Darmawan, ber...
Perkuat Solidaritas Kemanusiaan untuk Papua, PGI bersama KWI dan HONAI...
JAKARTA, PGI.OR.ID — Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) melalui Biro Papua bersama HONAI (Humanit...

