PGI Luncurkan Buku “The Church Will Not Be Silent”, Tegaskan Kesaksian Profetik untuk Keadilan dan Perdamaian di Papua
admin
05 Oct 2026 17:47
JAKARTA, PGI.OR.ID— Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) kembali menegaskan komitmennya untuk tidak berdiam diri dalam menyuarakan keadilan dan perdamaian di Tanah Papua. Komitmen tersebut terdokumentasi dalam buku The Church Will Not Be Silent: PGI’s Prophetic Witness on Justice and Peace in Papua (2019–2026) yang diluncurkan di Grha Oikoumene, Jakarta, Senin (5/10/2026).
Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn F. Manuputty, mengatakan buku tersebut merupakan dokumentasi perjalanan kesaksian profetik gereja dalam merespons berbagai persoalan kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian di Papua.
“The Church Will Not Be Silent, adalah kesaksian profetik, kenabian di Papua, terkait dengan keadilan dan perdamaian Papua, dari 2019 sampai 2026,” ujar Pdt. Jacky Manuputty saat peluncuran buku.
Menurutnya, dokumentasi tersebut memperlihatkan perjalanan keterlibatan PGI dalam menyikapi persoalan Papua, yang kemudian berkembang hingga memperkuat jejaring gereja di tingkat regional dan internasional. Salah satu tonggak penting dalam perjalanan tersebut adalah International Symposium on Papua yang berlangsung di Chiang Mai, Thailand, 28 September–1 Oktober 2026. “Ini dari 2019 sampai 2026. Termasuk dokumen hasil pertemuan di Chiang Mai,” katanya.
Simposium tersebut mempertemukan para pimpinan dan perwakilan gereja dari berbagai denominasi untuk membicarakan masa depan Papua dalam perspektif keadilan, perdamaian, dan solidaritas gereja. Gereja-gereja di Papua, hadir dalam satu ruang untuk mendengarkan, berbagi pengalaman, dan merumuskan langkah bersama. Bagi PGI, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kesaksian gereja tidak berhenti pada pernyataan keprihatinan, tetapi perlu diterjemahkan ke dalam kerja bersama yang terarah, terdokumentasi, dan berkelanjutan.
Merekam perjalanan kesaksian gereja
Wakil Sekretaris Umum PGI, Pdt. Lenta Enni Simbolon menjelaskan bahwa buku ini menghimpun berbagai pernyataan sikap, siaran pers, seruan, rekomendasi, dan deklarasi ekumenis PGI terkait Papua sepanjang 2019–2026.
Disusun secara kronologis, buku ini merekam respons gereja terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Papua, mulai dari rasisme, pengungsian, kekerasan bersenjata, pelanggaran hak asasi manusia, krisis kemanusiaan, kerusakan ekologis, hingga ancaman terhadap tanah dan ruang hidup masyarakat adat.
Dokumentasi tersebut juga memperlihatkan perkembangan keterlibatan PGI dari respons publik terhadap berbagai persoalan menuju kerja ekumenis yang semakin terstruktur. Di dalamnya antara lain termuat sikap PGI terkait Proyek Strategis Nasional di Merauke, rekomendasi Pra-Simposium Manokwari, hingga Chiang Mai Ecumenical Declaration for Papua: “Choosing Life” yang lahir dari International Symposium on Papua.
“Buku mengenai Papua ini bukan sekadar kumpulan dokumen, tetapi juga menjadi rekaman perjalanan bagaimana gereja merespons berbagai situasi yang dihadapi masyarakat Papua,” jelas Pdt. Lenta.
_1791197898.jpg)
Membawa suara Papua ke ruang oikoumenis global
Buku yang diterbitkan dalam bahasa Inggris ini, bertujuan untuk memperluas jangkauan dokumentasi dan advokasi PGI kepada jejaring oikoumenis internasional. Melalui publikasi tersebut, PGI berharap gereja-gereja dan lembaga oikoumenis di tingkat regional maupun global dapat memahami secara lebih utuh persoalan kemanusiaan di Papua, sekaligus melihat perjalanan dan pergumulan gereja-gereja di Indonesia dalam meresponsnya.
Dengan Publikasi berbahasa Inggris diharapkan memperkuat komunikasi PGI dalam percakapan ekumenis internasional mengenai perlindungan warga sipil, hak-hak Orang Asli Papua, pengungsian, keadilan ekologis, perdamaian, rekonsiliasi, serta kebutuhan akan dialog yang bermartabat.
Pdt. Jacky Manuputty mengatakan buku tersebut akan dibagikan kepada jaringan gereja internasional sebagai bagian dari upaya memperluas solidaritas dan memperkuat suara gereja mengenai Papua. Dalam kesempatan tersebut, ia menyerahkan buku kepada para pimpinan sinode gereja di Tanah Papua yang hadir dalam pertemuan tindak lanjut International Symposium on Papua.
Dokumentasi yang menjaga ingatan
Lebih jauh, Pdt. Lenta, mengatakan dokumentasi ini penting agar perjalanan kesaksian gereja tidak berhenti sebagai ingatan yang bersifat lisan, tetapi dapat menjadi sumber pembelajaran bagi gereja dan berbagai pihak yang terlibat dalam upaya membangun perdamaian di Papua.
“Buku ini merekam saat-saat ketika gereja memilih untuk bersuara. Di dalamnya ada duka, protes, solidaritas, peringatan, kepedulian, pastoral, dan pengharapan,” ujarnya.
Menurut Pdt. Lenta, publikasi ini juga menjadi bagian dari upaya membawa suara gereja-gereja di Indonesia dan suara masyarakat Papua ke ruang oikoumenis internasional secara lebih kuat, berbasis dokumen, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Buku ini diedit oleh Biro Penelitian dan Pengembangan PGI bekerja sama dengan Bidang Keadilan dan Perdamaian, Biro Papua, serta Biro Pengurangan Risiko Bencana (PRB) PGI. Penyusunannya juga mendapat kontribusi penting dari YAKOMA PGI, dalam penelusuran dan penyediaan berbagai dokumen yang menjadi dasar kompilasi historis tersebut.
Dari dokumentasi menuju langkah bersama

Peluncuran The Church Will Not Be Silent menjadi bagian dari rangkaian tindak lanjut PGI setelah International Symposium on Papua di Chiang Mai. Pertemuan tersebut tidak hanya menghasilkan Chiang Mai Ecumenical Declaration for Papua: “Choosing Life”, tetapi juga membuka ruang bagi penguatan kerja bersama gereja-gereja di tingkat regional dan internasional.
Pertemuan pasca-simposium di Grha Oikoumene membahas sejumlah langkah implementasi, antara lain penguatan koordinasi kemanusiaan, data dan perlindungan warga sipil, pengembangan ruang dialog, serta penguatan jejaring ekumenis regional dan internasional.
Dengan demikian, buku ini tidak dimaksudkan sebagai penutup dari perjalanan kesaksian gereja, melainkan sebagai bagian dari proses yang terus berlanjut. Dokumentasi menjadi cara untuk menjaga ingatan, sementara kesaksian profetik diteruskan melalui kerja bersama.
Melalui penerbitan The Church Will Not Be Silent, PGI menegaskan kembali komitmennya untuk terus mendengarkan suara masyarakat Papua dan berjalan bersama gereja-gereja, komunitas adat, perempuan, pemuda, pelaku kemanusiaan, akademisi, pemerintah, serta mitra ekumenis dalam memperjuangkan masa depan Papua yang lebih adil, damai, dan bermartabat.
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
PGI Luncurkan Buku “The Church Will Not Be Silent”, Tegaskan Kesak...
JAKARTA, PGI.OR.ID— Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) kembali menegaskan komitmennya untuk tidak...
Aksi Iklim Lintas Iman Konsolidasikan Tiga Pokja, Susun Prioritas Kerj...
JAKARTA,PGI.OR.ID-Sekretariat Bersama Aksi Iklim Lintas Iman menggelar pertemuan bulanan kedua dengan agenda k...
PGI Bersama KWI Rumuskan Tema Natal 2026
JAKARTA,PGI.OR.ID-Pdt. Mezisita Herlina (SE bidang KPG PGI), Pdt. Johan Kristantara (SE bidang KKC PGI), Pdm. ...

