Sidang MPH PGI Dibuka, Evaluasi Pelayanan Gereja dan Tegaskan Pentingnya Suara Kenabian di Tengah Persoalan Bangsa
admin
29 Oct 2026 12:24
JAKARTA, PGI.OR.ID — Gereja dipanggil untuk tetap hadir, menyuarakan kebenaran, dan menghadirkan pengharapan, terutama ketika masyarakat dan para pemimpin menghadapi berbagai persoalan. Pesan tersebut mengemuka dalam ibadah pembukaan Sidang Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (MPH PGI) di Grha Oikoumene, Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Pesan itu disampaikan Ketua MPH PGI, Pdt. Alfred Anggui, dalam khotbah pembukaan sidang yang berlangsung pada 29–30 Oktober 2026. Sidang dihadiri 40 peserta yang terdiri atas unsur MPH PGI, Badan Pengawas (BP) PGI, Majelis Pertimbangan PGI, kepala bidang dan biro PGI, serta staf PGI. Sinode Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) bertindak sebagai tuan rumah.
Sidang MPH PGI diselenggarakan setiap empat bulan sebagai forum untuk mengevaluasi pelaksanaan program dan menentukan arah pelayanan PGI. Melalui persidangan ini, pimpinan PGI bersama badan-badan terkait meninjau berbagai program yang telah berjalan sekaligus merumuskan langkah pelayanan ke depan dalam merespons panggilan gereja di tengah kehidupan masyarakat dan bangsa.
Gereja Tidak Boleh Menyerah Ketika Dunia Kehilangan Arah
Mengacu pada 2 Raja-Raja 5:1–8, Pdt. Alfred mengangkat kisah Nabi Elisa yang tetap teguh menyampaikan pesan Tuhan ketika para pemimpin menghadapi kebingungan dan ketidakberdayaan. Ia mengajak gereja untuk kembali memahami tanggung jawabnya di tengah berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Menurutnya, ketika para pemimpin tidak lagi mengetahui apa yang harus dilakukan, gereja tidak boleh ikut menyerah atau memilih berdiam diri. Sebaliknya, gereja justru dituntut untuk hadir dan mengambil peran aktif. “Bahkan ketika pemimpin-pemimpin politik tidak tahu harus berbuat apa, gereja tidak pernah boleh menyerah. Gereja harus hadir,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa kehadiran gereja tidak cukup hanya menjadi saksi atas berbagai persoalan. Gereja perlu mengambil inisiatif dan berperan aktif di tengah dunia yang sedang sakit, bingung, dan panik. Panggilan tersebut harus tetap dijalankan sekalipun situasi di sekitarnya tidak memberikan kepastian ataupun jalan keluar yang mudah.
Belajar dari Nabi Elisa, Pdt. Alfred mengingatkan bahwa kekuatan gereja tidak terutama terletak pada kekuasaan, jabatan, kekayaan, atau kekuatan material. Kekuatan gereja justru bersumber dari relasinya dengan Tuhan dan keyakinan bahwa Tuhan tetap bekerja dalam kehidupan manusia.

“Biarkan dia datang, supaya dia tahu ada seorang nabi, ada seorang yang dipakai Tuhan. Biarkan dia datang, biar dia tahu bahwa Tuhan masih bekerja di tempat ini,” ungkapnya, menggambarkan keyakinan Nabi Elisa akan kehadiran Tuhan.
Menurut Pdt. Alfred, pesan tersebut mengingatkan gereja untuk menghadirkan tanda-tanda pekerjaan Tuhan melalui kesaksian, pelayanan, dan keberanian menyuarakan kebenaran. Gereja tidak boleh kehilangan suara kenabiannya ketika berhadapan dengan kekuatan politik maupun berbagai kepentingan duniawi.
Selain keberanian bersuara, ia juga menyoroti pentingnya keterbukaan untuk mendengar. Dalam kisah Elisa, kesediaan para pemimpin menerima masukan membuka jalan bagi penyelesaian persoalan. Karena itu, gereja perlu membangun ruang dialog, mendengarkan berbagai suara, serta menyampaikan pesan Tuhan dengan cara yang dapat dipahami dan menyentuh hati banyak orang. “Banyak persoalan bisa diselesaikan ketika ada hati yang terbuka dan telinga yang mau mendengar,” ujarnya.
Pdt. Alfred mengajak gereja untuk terus menyampaikan pesan Tuhan secara jelas dan relevan. Dengan demikian, suara kenabian tidak berhenti sebagai pernyataan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata untuk menghadirkan keadilan, perdamaian, dan pengharapan di tengah kehidupan bangsa.
GKII: Kehormatan Menjadi Bagian dari Gerakan Oikoumenis
Sebagai tuan/nyonya rumah persidangan, Ketua Umum Sinode GKII, Pdt. Hussain Shaz Diman, menyampaikan rasa hormat dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) untuk menjadi bagian dari penyelenggaraan Sidang MPH PGI.
Ia menyebut keterlibatan tersebut sebagai kehormatan sekaligus kesempatan bagi GKII untuk terus mengambil bagian dalam gerakan oikoumenis di Indonesia.
"Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) bersukacita dapat terlibat dalam perjalanan bersama gereja-gereja di Indonesia. Keterlibatan itu tidak hanya diwujudkan melalui penyelenggaraan kegiatan, tetapi juga melalui komitmen untuk memperkuat persekutuan dan pelayanan bersama," ujar Pdt. Hussain.
Pdt. Hussain juga mengapresiasi pesan dalam khotbah pembukaan yang mengingatkan gereja agar tetap hadir dan menjalankan panggilannya. Pesan tersebut sejalan dengan kerinduan GKII untuk memperkuat persekutuan dan kerja sama antargereja di tengah berbagai tantangan pelayanan.
Pada kesempatan itu, Pdt. Hussain menyampaikan bahwa GKII tengah mempersiapkan perayaan satu abad pelayanan yang akan berlangsung pada 28 Februari 2028. Berawal dari gerakan pekabaran Injil pada 1928, pelayanan GKII kini telah menjangkau berbagai wilayah di Indonesia. Menurut data yang disampaikannya, GKII saat ini hadir di 37 provinsi dengan lebih dari 600 ribu jemaat.

Perayaan satu abad tersebut direncanakan berlangsung melalui rangkaian kegiatan di Balikpapan, Makassar, dan Papua. Perayaan ini mengusung tema “Revitalisasi Fungsi dan Peran Gereja sebagai Rumah Doa bagi Segala Bangsa di Tengah Dunia yang Sedang Merintih dan Terluka.” Tema tersebut mencerminkan panggilan gereja untuk terus memperbarui peran dan pelayanannya di tengah dunia yang menghadapi berbagai tantangan. Ia berharap keterlibatan GKII dalam gerakan oikoumenis di Indonesia terus berlanjut dan semakin kuat melalui kerja sama antargereja.
Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty, turut menyampaikan terima kasih kepada Sinode GKII yang menjadi tuan rumah Sidang MPH PGI pada Oktober ini. Ia mengapresiasi dukungan GKII terhadap gerakan oikoumenis dan keterlibatannya dalam panggilan bersama gereja-gereja untuk menjadi terang bagi bangsa.
Pdt. Jacklevyn juga menyampaikan salam dan penghargaan kepada seluruh jemaat GKII di Indonesia, yang menjalankan pelayanan dalam beragam konteks dan wilayah. Ia memberikan perhatian khusus kepada pelayanan GKII di Papua, tempat gereja hadir di tengah masyarakat yang berhadapan langsung dengan dinamika dan kompleksitas konflik.
_1793256357.jpeg)
Kehadiran GKII di Papua memperlihatkan pentingnya peran gereja dalam mendampingi masyarakat, merawat kehidupan, dan menghadirkan pengharapan di tengah situasi yang penuh tantangan. Dalam konteks ini, pelayanan gereja tidak hanya ditujukan kepada jemaat, tetapi juga perlu menjangkau kehidupan masyarakat secara lebih luas.
Sidang MPH PGI yang berlangsung hingga Jumat (30/10/2026) diharapkan memperkuat koordinasi dan kerja bersama dalam menentukan program serta arah pelayanan PGI ke depan.
Melalui dukungan gereja-gereja anggota, PGI terus mendorong gerakan oikoumenis sebagai ruang bagi gereja-gereja untuk berjalan bersama, menyuarakan kebenaran, merawat kehidupan, serta menghadirkan keadilan dan pengharapan bagi bangsa. (NA/BRNSD)
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
PERSETIA Rayakan HUT ke-63 dalam RUA 2026: PGI Tegaskan Pentingnya Kol...
MAKASSAR,PGI.OR.ID — Perkumpulan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia (PERSETIA) menggelar Rapat Umum Anggo...
Sidang MPH PGI Dibuka, Evaluasi Pelayanan Gereja dan Tegaskan Pentingn...
JAKARTA, PGI.OR.ID — Gereja dipanggil untuk tetap hadir, menyuarakan kebenaran, dan menghadirkan pengharapan...
Ketum PGI Dorong Gereja Kritis Membaca Situasi Ekonomi dan Memperkuat ...
JAKARTA, PGI.OR.ID— Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty,...

