Sidang Sinode ke-60 GMIBM di Pinogaluman: Tekankan Spiritualitas Keugaharian dalam Menghadapi Polikrisis
admin
16 Jul 2026 17:18
BOLMONG, PGI.OR.ID – Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) terus berkomitmen untuk memperkuat relasi oikoumene dan hadir mendampingi gereja-gereja anggotanya dalam berbagai agenda strategis. Baru-baru ini, Wakil Sekretaris Umum (Wasekum) PGI, Pdt. Lenta Enni Simbolon, menghadiri langsung pembukaan serta memberikan pembekalan dalam Sidang Sinode ke-60 Gereja Masehi Injili di Bolaang Mangondow (GMIBM) yang dilaksanakan di Desa Pinogaluman, Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolaang Mangondow, Sulawesi Utara.
Rangkaian persidangan agung ini diawali dengan prosesi penahbisan Aula tempat sidang di lingkungan GMIBM Jemaat Sion Pinogaluman. Gedung aula baru ini merupakan buah karya bersama dan wujud nyata dari gotong royong seluruh panitia serta jemaat setempat.
Setelah penahbisan, ibadah pembukaan berlangsung dengan penuh khidmat dipimpin oleh Ibu Gembala Fetrisia Aling, selaku Sekretaris Umum Sinode Am Gereja-gereja (SAG) Sulawesi Utara dan Tengah. Dalam khotbahnya, ia menegaskan pentingnya seluruh jemaat mendoakan proses persidangan yang agung ini agar berjalan lancar. Ia juga mengingatkan agar proses pemilihan pimpinan GMIBM periode 2026–2031 didasarkan pada kriteria Firman Tuhan, yaitu sosok pemimpin yang rendah hati, penuh hikmat dari Tuhan, baik, dan selalu berserah kepada kehendak Tuhan.
Pembukaan persidangan agung ini turut dihadiri oleh jajaran tokoh penting, di antaranya Gubernur Sulawesi Utara beserta jajaran pemerintahan, Kanwil Kemenag Sulut, Bupati Bolaang Mangondow (Bolmong), Walikota Kotamobagu, serta Sekretaris Umum dan Bendahara MPH SAG Suluteng.
_1784198157.jpeg)
Dalam sambutannya, Gubernur Sulut menegaskan komitmen pemerintah untuk selalu hadir dalam setiap kegiatan keagamaan. Gubernur juga menaruh harapan besar agar Sinode GMIBM terus mendukung pembangunan di Sulawesi Utara serta ikut menjaga dan merawat kerukunan. Peran aktif gereja dinilai sangat berharga dalam mempertahankan posisi Sulut yang saat ini menjadi salah satu dari tiga provinsi terbaik paling toleran di Indonesia.
Ketua Panitia yang juga merupakan Wakil Bupati Bolaang Mangondow, Bapak Dony Lumenta, menyampaikan rasa syukur atas kerja bersama seluruh pihak sehingga aula sidang dapat digunakan, meskipun pembangunannya belum sepenuhnya sempurna. Apresiasi senada juga disampaikan oleh Ketua Sinode GMIBM, Pdt. Fekky Kamasen. Beliau mengucapkan terima kasih yang mendalam atas kerja keras panitia, serta atas dukungan Gubernur Sulut, jajaran pemerintahan, MPH PGI, MPH SAG, dan seluruh tamu undangan yang hadir.
Wasekum PGI, Pdt. Lenta Enni Simbolon, dalam sambutannya turut memuji kolaborasi apik antara Panitia, Jemaat, dan BPS Sinode GMIBM yang telah menghasilkan aula baru demi kelancaran acara. Ia berharap persidangan dapat berjalan dengan penuh kedamaian dari awal hingga akhir, serta mampu melahirkan kepemimpinan periode 2026–2031 yang membawa GMIBM melangkah jauh lebih maju lagi.
Pada hari kedua persidangan, Wasekum PGI Pdt. Lenta Enni Simbolon berkesempatan memberikan ceramah pembekalan di hadapan para peserta sidang dengan memaparkan Tema PGI: "Hiduplah sebagai terang yang membuahkan kebaikan, kebenaran, dan keadilan."

Dalam paparannya, Pdt. Lenta menguraikan sejarah panjang PGI serta latar belakang lahirnya Spiritualitas Keugaharian pada Sidang Raya (SR) PGI di Nias tahun 2014, sebagai respons iman terhadap konteks krisis global yang akar utamanya adalah kerakusan manusia. Konsep teologis ini kemudian terus didalami dalam dinamika SR PGI di Toraja, di mana Dokumen Keesaan Gereja (DKG) PGI mencatat tantangan nyata berupa polikrisis: krisis kebangsaan, oikoumene, ekologi, hingga tantangan dunia digital. Lagi-lagi, umat Kristen dipanggil menghidupi Spiritualitas Keugaharian untuk keluar dari jerat polikrisis ini.
Lebih lanjut, berkaca dari hasil SR PGI di Sumba, gereja menemukan dua tambahan krisis baru yang krusial, yaitu krisis keluarga dan krisis pendidikan, ditambah dengan dampak masif perkembangan Artificial Intelligence (AI). Menghadapi situasi ini, PGI mengajak gereja-gereja untuk menguatkan keluarga sebagai Ecclesia Domestika (Gereja Domestik/Rumah Tangga). Penguatan dari unit terkecil ini dipandang sebagai respons strategis gereja dalam menjawab polikrisis zaman sekarang. (LES)
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
FUKRI Desak Pemerintah Jadikan Penanganan Krisis Kemanusiaan dan Peng...
JAKARTA,PGI.OR.ID-Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI), yang mewadahi lembaga gerejawi seperti PGI, KWI, PGP...
Sidang Sinode ke-60 GMIBM di Pinogaluman: Tekankan Spiritualitas Keuga...
BOLMONG, PGI.OR.ID – Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) terus berkomitmen untuk memperkuat relasi ...
Ketum PGI dalam Rakernas Forum Nasional IKA PTKIN: Merawat Bumi adalah...
JAKARTA, PGI.OR.ID – Krisis iklim tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan lingkungan semata. Ia telah b...

