Preloader
PGI.OR.ID

Alamat

Jalan Salemba Raya No. 10
Jakarta Pusat (10430)

Hotline

021-3150451

021-3150455

021-3908118-20

Alamat Email

mailto:info@pgi.or.id

Gereja di Tengah Bencana – Jangan Terjebak Sindrom Juru Selamat

Thumbnail

Share:

Seketika bumi indah Flores berguncang dihantam gempa tektonik berkekuatan M 7,7 pada subuh hari 15 Agustus 2027. Rumah-rumah roboh, korban jiwa berjatuhan, dan ribuan warga lari menyelamatkan diri. Mereka terhempas kemudian di tenda-tenda pengungsi dalam kondisi serba terbatas pada hari-hari pertama paska gempa. Dalam situasi mencekam itu, pertanyaan yang sering mengemuka adalah, “dimana gereja?” Di balik pertanyaan ini ada harapan besar agar gereja segera tanggap untuk datang membawa bantuan, membangun pos terpadu, menggalang dukungan, dan menyalurkan logistik. Tentu harapan itu tak salah, namun bila gereja berhenti hanya pada peran-peran itu, maka ia sedang terjebak pada apa yang disebut “sindrom juru selamat (savior syndrome), seolah gereja berdiri di luar penderitaan, datang sebagai penyelamat dari atas, ketimbang menjadi bagian yang ikut terluka bersama umat yang dilayaninya.

Selama kunjungan saya ke wilayah bencana di Pulau Flores, dan pada wilayah-wilayah bencana di daerah lain sebelumnya, saya kerap menemukan banyak wajah dironai duka dengan pandangan penuh harap akan datangnya pertolongan. Dalam situasi itu saya selalu mengingatkan diri saya untuk tidak terjebak tampil sebagai juru selamat, tetapi sebagai saudara yang siap memasuki ruang kerapuhan bersama mereka yang terdampak. Saya meyakini bahwa panggilan gereja yang sejati di tengah situasi bencana harus dimulai dari pengakuan yang lebih rendah hati, bahwa gereja bukanlah pihak yang berdiri di luar bencana, melainkan tubuh yang ikut retak ketika umatnya retak. Ketika saya melihat gedung-gedung ibadah runtuh, dan jemaat kehilangan rumah serta orang-orang terkasih mereka, saya meyakinkan diri saya dan komunitas korban bahwa sesungguhnya gereja yang sejati adalah persekutuan yang sedang terluka itu.

Pada titik itulah rengkuhan sejati bermula. Gereja dipanggil untuk merengkuh luka dan duka umat, bukan hanya merayakan sukacita di hari-hari yang mudah. Justru di ruang-ruang duka itulah gereja menemukan panggilannya yang paling autentik. Gereja hadir, mendengarkan, menangis bersama, dan menahan diri untuk tidak buru-buru menawarkan jawaban rohani yang menyederhanakan penderitaan.

Melalui rengkuhan itu gereja membangun apa yang dapat disebut spiritualitas penyintas (sebagai lawan dari spiritualitas korban). Spiritualitas penyintas lahir dari sebuah keyakinan iman yang tidak menyangkal luka, tetapi juga tidak berhenti pada luka. Spiritualitas penyintas adalah keberanian untuk berkata bahwa harapan tetap hidup, bukan karena penderitaan diabaikan, melainkan karena Allah sendiri hadir di tengah reruntuhan dan tidak meninggalkan umat-Nya sendirian. Dari spiritualitas inilah umat diajak membuka diri bagi karya pemulihan Tuhan, sebuah proses yang tidak instan, yang berjalan seiring waktu, dan yang membutuhkan ruang aman untuk berduka sebelum bisa bangkit kembali. Hal mana dicontohkan Yesus, saat menangis bersama Martha dan Maria dalam kisah kematian Lazarus saudara mereka.

Di Flores saya dengar kesaksian beberapa warga lanjut usia mengenai bencana-bencana alam yang telah mereka alami sebelumnya, dan bagaimana mereka mampu bertahan mengelola dampaknya. Saya juga mendengar narasi-narasi bersama tentang semakin tangguhnya Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) mengelola perannya di tengah bencana setelah belajar dari bencana-bencana besar yang terjadi sebelumnya. Kesaksian mereka menegaskan satu hal bahwa kekuatan utama gereja dan umat dalam menghadapi bencana harus tumbuh dari dalam dirinya sendiri, dan dari persekutuan yang saling menopang. Semua kepahitan akibat bencana menjadi pelajaran berharga untuk semakin kokoh dan tangguh dalam membangun spiritualitas penyintas. Di tengah situasi ini, setiap bantuan yang datang dari luar patutlah diapresiasi dengan ucapan syukur, namun iman yang tangguh sesungguhnya berakar pada relasi dengan Tuhan dan pada persekutuan umat yang saling menguatkan, tetangga yang menopang tetangga, jemaat yang kuat memikul beban jemaat yang rentan, keluarga besar gereja yang hadir dalam kesederhanaan namun konsisten dan berdampak pada semua fase pemulihan dan transformasi dampak bencana.

Berbagai bantuan yang datang dari luar pada akhirnya akan berhenti pada suatu titik, tetapi kekuatan yang tumbuh dari dalam diri umat dan dari persekutuan yang saling merengkuh akan terus menyertai perjalanan pemulihan, bahkan setelah posko-posko bantuan dibongkar. Di sanalah gereja menemukan panggilannya yang paling hakiki, bukan sebagai penyelamat dari luar, tetapi sebagai saudara yang turut terluka, turut berduka, dan bersama-sama berjalan menuju pemulihan yang sejati. Meminjam istilah Carl Jung (yang dipopulerkan oleh Henry Nouwen), gereja adalah ‘the Wounded Healer’ penyembuh yang menjalankan pelayanannya lewat pengakuan atas lukanya sendiri, bukan menyembunyikannya.

2 Korintus 1:3-4,  “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh kemurahan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka yang berada dalam macam-macam penderitaan, dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.”

Berikan Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *

Komentar *
Nama Lengkap *
Email *
Website
(optional)

Berita & Peristiwa
GMIT | LAPORAN SITUASI 4 - GEMPA BUMI FLORES, NTT
by admin 21 Aug 2026 21:47

GMIT | LAPORAN SITUASI 4🚨 GEMPA BUMI FLORES, NTTGempa bumi M7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara ...

Gereja di Tengah Bencana – Jangan Terjebak Sindrom Juru Selamat
by Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty 21 Aug 2026 13:03

Seketika bumi indah Flores berguncang dihantam gempa tektonik berkekuatan M 7,7 pada subuh hari 15 Agustus 202...

Dua Wajah Flores: Antara Riuh Wisatawan dan Duka yang Belum Reda
by Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty 21 Aug 2026 10:10

Dalam kunjungan ke wilayah bencana di Pulau Flores, saya pergi dan kembali melalui Labuan Bajo, destinasi wisa...