Dua Wajah Flores: Antara Riuh Wisatawan dan Duka yang Belum Reda
Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty
21 Aug 2026 10:10
Dalam kunjungan ke wilayah bencana di Pulau Flores, saya pergi dan kembali melalui Labuan Bajo, destinasi wisata di ujung barat Pulau Flores. Sekalipun Flores dihantam gempa tektonik, Labuan Bajo tetap ramai. Airport Labuan Bajo yang melayani penerbangan langsung ke beberapa negara dipenuhi turis mancanegara yang datang dan pergi. Kapal-kapal phinisi bersandar di pelabuhan sebagai hotel apung dengan tarif selangit yang siap mengantar turis ke berbagai pulau eksotik di sekitarnya. Ini memang bulan-bulan wisata bagi turis mancanegara,” kata pendeta Hendrik yang mendampingi saya. Pendeta Hendrik adalah Pendeta GMIT yang melayani jemaat GMIT di Labuan Bajo.
Wajah para turis yang memenuhi kota Labuan Bajo tak nampak cemas, sekalipun mereka turut mengalami gempa susulan yang terjadi dengan interval tinggi. “What the fu’k, earthquake!”, seorang bule muda berteriak dan melompat di samping saya saat guncangan terjadi. Sejenak ia terlihat panik, selanjutnya tertawa riuh dengan teman-temannya, sekan menikmati guncangan gempa susulan itu sebagai tambahan sensasi liburannya. Di pusat bisnis, restoran-restoran tepi pantai masih menyalakan lampu di malam hari. Roda ekonomi berputar seperti biasa, sebuah gerbang pariwisata kelas dunia dengan omzet trilyunan rupiah yang terus dipromosikan sebagai kebanggaan Indonesia Timur.
_1787283070.jpeg)
Namun hanya beberapa ratus kilometer ke arah timur, di jantung pulau yang sama, wajah Flores yang lain jauh dari gemerlap itu. Pada Sabtu, 15 Agustus 2026, gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur dengan pusat di Laut Flores, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer. Guncangan itu mengubah hidup ribuan orang dalam hitungan detik. Ribuan warga terhempas menyelamatkan diri di berbagai lokasi pengungsian. Data korban terus bergerak naik dalam hari-hari setelahnya. Hingga pembaruan data oleh BMKG pada 20 Agustus 2026, jumlah korban meninggal tercatat 71 orang dengan 59.647 orang mengungsi, sementara gempa-gempa susulan terus terjadi.
Saya melewatkan perayaan kemerdekaan 17 Agustus dalam kunjungan selama beberapa hari sepanjang Manggarai sampai Nagakeo, antara kemurungan kelompok-kelompok pengungsi yang menghidupi kesedihan dan kecemasan akibat kehilangan harta benda, korban jiwa, maupun trauma yang terus menggelayut.
Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur menjadi wilayah paling parah terdampak, dan Kota Reok (biasa disebut Reo) mungkin yang paling berat kerusakannya. Di kota itu, saya saksikan rumah-rumah beton bertingkat yang amblas ke tanah. Rumah mewah salah seorang anggota DPR-RI asal NTY turut dihantam gempa yang meruntuhkannya. Fasilitas publik dan rumah ibadah tak luput dari kerusakan dalam berbagai skala.

Bencana gempa tektonik tidak memilih korban berdasarkan latar belakang agama, etnis, maupun status sosial. Di tenda-tenda “pengungsi mandiri” (tenda terpal yang dibangun atas inisiatif warga sendiri) warga masyarakat lintas agama berbaring bersebelahan sebagai korban yang sama. Semua perbedaan dipertemukan dalam satu realitas, “KERAPUHAN”. Dan, prasyarat utama untuk berdiri bersama di atas panggung kerapuhan adalah saling tolong menolong sebagai sesama manusia.
Labuan Bajo dan Manggarai (termasuk Ngada, Nagakeo, dan kabupaten-kabupaten terdampak lainnya) adalah dua realitas yang hidup di satu pulau, dalam satu waktu. Di barat, dunia datang untuk menikmati keindahan Flores. Di tengah dan timur, ribuan penduduk asli pulau itu berjuang untuk sekadar bertahan hidup, mencari makan, air bersih, dan atap yang tidak akan runtuh menimpa anak-anak mereka.
Kontras ini bukan sekadar ironi geografis. Ia adalah pengingat bahwa kemakmuran satu wilayah tidak serta-merta menjalar ke wilayah lain yang berdekatan, dan bahwa solidaritas gerejawi maupun kebangsaan dipanggil untuk menjembatani jarak itu. Jarak antara mereka yang menikmati laut dan Pulau Flores sebagai destinasi wisata, dan mereka yang tanahnya baru saja berguncang hebat, kehilangan rumah, kehilangan orang-orang terkasih, namun belum tentu kehilangan harapan. Tentu ini hanya potret kecil dari bingkai besar mozaik kontras dalam ruang kebangsaan yang kita hidupi di usia ke-81 tahun republik ini, dan kita masih harus terus bekerja keras menjembataninya.
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
GMIT | LAPORAN SITUASI 4 - GEMPA BUMI FLORES, NTT
GMIT | LAPORAN SITUASI 4🚨 GEMPA BUMI FLORES, NTTGempa bumi M7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara ...
Gereja di Tengah Bencana – Jangan Terjebak Sindrom Juru Selamat
Seketika bumi indah Flores berguncang dihantam gempa tektonik berkekuatan M 7,7 pada subuh hari 15 Agustus 202...
Dua Wajah Flores: Antara Riuh Wisatawan dan Duka yang Belum Reda
Dalam kunjungan ke wilayah bencana di Pulau Flores, saya pergi dan kembali melalui Labuan Bajo, destinasi wisa...

