Dari Manado, PGIW/SAG Ikut Nyalakan Terang Solidaritas bagi Korban Gempa NTT
admin
21 Aug 2026 06:45
MANADO, PGI.OR.ID — Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) kembali menegaskan panggilannya untuk menghadirkan terang di tengah berbagai pergumulan bangsa. Pesan tersebut mengemuka dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional Persekutuan Gereja-Gereja Wilayah (PGIW) dan Sinode Am Gereja-Gereja (SAG) di Gereja GMIM Kinamang, Manado, Sulawesi Utara, Kamis (20/8/2026).
Rakernas PGIW/SAG tahun ini mengusung tema “Hiduplah sebagai Terang yang Mendatangkan Kebaikan, Keadilan, dan Kebenaran”, dengan subtema “Mewujudkan Ecclesia Domestica yang Memulihkan Kehidupan Bangsa dan Merawat Ciptaan”.
Pembukaan Rakernas ditandai dengan pemukulan tetengkoran secara bersama-sama oleh Sekretaris Umum PGI Pdt. Darwin Darmawan, Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Utara yang mewakili Gubernur Sulawesi Utara, Ketua Panitia Rakernas yang juga Wakil Wali Kota Manado, serta Ketua SAG Sulutteng. Pemukulan kentongan tersebut menjadi penanda dimulainya perjumpaan gereja-gereja untuk merefleksikan panggilan bersama dan merumuskan langkah pelayanan yang semakin relevan dengan kebutuhan gereja, masyarakat, bangsa, dan ciptaan.
Salah satu momen penting dalam pembukaan Rakernas adalah aksi solidaritas bagi korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Penyalaan lilin oleh Sekum PGI bersama Ketua Panitia Rakernas dan Ketua SAG Sulutteng menjadi simbol kehadiran, kepedulian, dan pengharapan bagi saudara-saudara yang sedang mengalami penderitaan. Solidaritas tersebut juga diwujudkan melalui persembahan yang dikumpulkan dalam rangkaian pembukaan dan akan didonasikan kepada para korban gempa di NTT.
Sekum PGI Pdt. Darwin Darmawan menjelaskan bahwa Ketua Umum PGI Pdt. Jacklevyn F. Manuputty sedianya hadir dalam Rakernas. Namun, panggilan oikoumenis membuatnya harus berada di Flores untuk menunjukkan kepedulian dan solidaritas kepada masyarakat yang terdampak bencana.

“Preferential option for the weak or for the poor menjadi komitmen oikoumenis yang dilakukan oleh MPH saat ini kepada tubuh-tubuh Kristus yang lebih lemah,” ujar Darwin. Menurutnya, kehadiran Ketua Umum PGI di Flores justru menjadi gambaran konkret bagaimana gereja memilih untuk hadir bersama mereka yang sedang berada dalam situasi sulit. “Walaupun ini sudah diagendakan, kami melalui PGI berkunjung ke Flores untuk menunjukkan kepedulian dan solidaritas kita bagi anggota tubuh Kristus di sana,” katanya.
Dalam sambutannya, Pdt. Darwin juga mengajak gereja-gereja memaknai Rakernas sebagai momentum untuk memperbarui energi oikoumenis dan memperkuat soliditas gereja-gereja di Indonesia. Ia mengingatkan kembali pesan kebangsaan PGI menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia: “Tetap nyalakan terang di tengah kabut kebangsaan.”
Menurut Pdt. Darwin, Indonesia saat ini menghadapi berbagai persoalan, baik yang bersumber dari dinamika global maupun persoalan khas bangsa sendiri. Karena itu, gereja perlu hadir secara nyata. “Saya senang ketika Pak Gubernur tadi menggambarkan kita ini seperti lilin-lilin kecil. Kalau lilin-lilin ini menyala bersama-sama, kita akan dimampukan untuk menerangi kegelapan yang terjadi di tengah-tengah bangsa kita,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa kekuatan gereja terletak pada kebersamaan. “Kalau kekristenan kompak, kalau kita solid, tidak ada masalah yang terlalu besar yang tidak bisa kita atasi. Tidak ada pergumulan yang terlalu hebat yang tidak bisa kita lakukan,” katanya.
_1787273819.jpeg)
Ia mencontohkan soliditas gereja dalam menyuarakan persoalan Papua. Menurutnya, sikap gereja bukan lahir dari kebencian terhadap pemerintah atau aparat negara, melainkan dari komitmen untuk mendorong kehidupan bersama yang menghormati martabat manusia dan kelestarian ciptaan. “Kita tidak membenci pemerintahan. Kekristenan mengajarkan hormat kepada otoritas negara. Tetapi kita ingin pemerintahan bersama dengan saudara-saudara yang lain mampu membangun demi kelestarian dan bertolak juga dari kerinduan masyarakat,” jelasnya.
Pdt. Darwin juga menyinggung pertemuan delapan lembaga keumatan Kristen yang beberapa waktu lalu bersama-sama menyuarakan perhatian terhadap Papua. “Solidaritas kita sebagai terang diperhitungkan. Soliditas kita sebagai terang mampu menerangi kegelapan,” tegasnya.
_1787273737.jpeg)
Sementara itu, Gubernur Sulawesi Utara melalui Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Utara, dr. Lidya E. Tulus, yang hadir mewakili Gubernur, menyampaikan bahwa bangsa Indonesia terus menghadapi berbagai tantangan global dan domestik, mulai dari ketidakpastian ekonomi, perubahan nilai sosial akibat digitalisasi, degradasi moral, hingga perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Dalam kondisi tersebut, pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik. “Kita membutuhkan manusia yang memiliki karakter, integritas, kepedulian, serta rasa tanggung jawab. Kita membutuhkan keluarga yang kuat, masyarakat yang saling menghargai, serta kekuatan moral di tengah berbagai perubahan,” demikian disampaikan dalam sambutan Gubernur Sulut.
Karena itu, gereja dinilai memiliki ruang strategis untuk ikut menghadirkan jawaban atas berbagai persoalan tersebut. “Gereja dan lembaga keagamaan bukan sekadar menara gading yang berdiri terpisah dari realitas sosial, melainkan bermitra strategis dengan pemerintah dan memiliki tanggung jawab yang besar untuk membawa terang, kedamaian, perdamaian, dan menjadi berkat bagi seluruh bangsa Indonesia.”
Pemerintah pun berharap kolaborasi dengan gereja tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menyentuh kebutuhan nyata masyarakat melalui pemberdayaan, pendidikan, pelayanan kemanusiaan, penguatan ekonomi keluarga, perlindungan anak dan perempuan, pembinaan pemuda, serta gerakan menjaga lingkungan hidup.

Pesan tentang kehadiran gereja dalam kehidupan nyata juga diperkuat melalui khotbah yang mengangkat kisah Yesus memberi makan lima ribu orang sebagaimana dicatat dalam Lukas 9:10–17.
Dalam refleksinya, Wakil Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode Am Gereja-Gereja Sulawesi Utara, Tengah, dan Gorontalo (SAG Suluttenggo), Pdt. Alex Rondonuwu, yang juga menjabat sebagai Ketua Sinode Gereja Protestan Indonesia Donggala (GPID), menyampaikan bahwa pelayanan gereja tidak boleh berhenti pada liturgi seremonial. Gereja dipanggil untuk masuk ke dalam apa yang disebut sebagai “liturgi kehidupan” dengan menjawab kebutuhan konkret manusia.
Orang banyak yang mengikuti Yesus bukan hanya membutuhkan makanan rohani melalui pengajaran, tetapi juga membutuhkan makanan bagi tubuh. Yesus pun berkata kepada murid-murid-Nya, “Kamu harus memberi mereka makan.”
Pesan tersebut menjadi relevan bagi gereja masa kini: gereja dipanggil untuk menghadirkan energi positif dan memberikan dampak nyata bagi komunitas. Gereja yang menghadirkan energi positif akan membuat orang datang dan menemukan kehidupan, bukan justru membuat orang meninggalkan gereja.
_1787273687.jpeg)
Pada kesempatan yang sama, Ketua Panitia Rakernas PGIW/SAG yang juga Wakil Wali Kota Manado, dr. Richard Sualang, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Manado, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, sinode-sinode di lingkungan SAG Suluteng, tokoh masyarakat dan gereja, serta berbagai lembaga yang mendukung penyelenggaraan Rakernas.
“Puji Tuhan, seluruh persiapan telah dilakukan. Kami terus bekerja dan berdoa agar kelangsungan kegiatan ini sampai pada akhirnya beberapa hari ke depan dapat terus dijaga dan dilindungi Tuhan,” ujarnya. Ia juga mengapresiasi keterlibatan para pendeta, pelayan khusus, penatua, diaken, dan aktivis gereja yang bersama-sama menopang pelaksanaan Rakernas.
Hal yang sama disampaikan oleh Ketua SAG Suluteng, Pdt. Jacqueline Soan Sumilat, sembari menegaskan komitmen SAG Sulutteng untuk terus merawat kebersamaan dan menghadirkan pelayanan yang berdampak.
_1787273712.jpeg)
Suasana pembukaan Rakernas juga diwarnai penampilan Masamper dan Maengket, dua kesenian tradisional Sulawesi Utara yang ditampilkan sebagai bagian dari penyambutan para peserta Rakernas dari berbagai wilayah Indonesia. Penampilan tersebut menjadi cara masyarakat dan gereja di Sulawesi Utara memperkenalkan kekayaan budaya lokal sekaligus menghadirkan nuansa hospitalitas dalam perjumpaan oikoumenis.
Rakernas PGIW/SAG 2026 yang diikuti 117 orang menjadi momentum untuk memperbarui semangat oikoumenis, memperkuat soliditas, dan menerjemahkan tema “Hiduplah sebagai Terang yang Mendatangkan Kebaikan, Keadilan, dan Kebenaran” ke dalam tindakan nyata bagi gereja, bangsa, dan seluruh ciptaan. (NA)
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
GMIT | LAPORAN SITUASI 4 - GEMPA BUMI FLORES, NTT
GMIT | LAPORAN SITUASI 4🚨 GEMPA BUMI FLORES, NTTGempa bumi M7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara ...
Gereja di Tengah Bencana – Jangan Terjebak Sindrom Juru Selamat
Seketika bumi indah Flores berguncang dihantam gempa tektonik berkekuatan M 7,7 pada subuh hari 15 Agustus 202...
Dua Wajah Flores: Antara Riuh Wisatawan dan Duka yang Belum Reda
Dalam kunjungan ke wilayah bencana di Pulau Flores, saya pergi dan kembali melalui Labuan Bajo, destinasi wisa...

