Preloader
PGI.OR.ID

Alamat

Jalan Salemba Raya No. 10
Jakarta Pusat (10430)

Hotline

021-3150451

021-3150455

021-3908118-20

Alamat Email

mailto:info@pgi.or.id

Ketua Umum PGI Tegaskan Gereja yang Mendunia Harus Menghadirkan Solidaritas, Bukan Sekadar Memperluas Pengaruh

Thumbnail
Author

admin

14 Oct 2026 15:45

Share:

UTRECHT, BELANDA — Dalam pemaparannya di hari kedua konferensi gereja Indonesia–Belanda bertema Growing in Partnership: Learning from the Past, Challenged by the Present and Fit for the Future, yang berlangsung pada 12–15 Oktober 2026, Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty menegaskan bahwa menjadi gereja yang mendunia bukan terutama soal seberapa luas jangkauan geografis atau seberapa besar pengaruh kelembagaannya, melainkan sejauh mana gereja bersedia membangun persekutuan dan bertanggung jawab atas kehidupan sesamanya. 

Pesan ini ditegaskan dalam presentasi bertajuk On Being a Worldwide Church: An Indonesian Ecumenical Perspective pada kegiatan publik konferensi Growing in Partnership di Utrecht, Belanda, Kamis (15/10/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari  Dalam forum publik bertajuk Mission: A Common Calling in Fruitful Partnership. Dutch and Indonesian Churches Walking Together, Pdt. Jacklevyn menyampaikan perspektif Indonesia mengenai panggilan gereja sebagai bagian dari persekutuan Kristen sedunia.

Ia mengajak peserta meninjau kembali makna gereja yang mendunia. Ukurannya bukan semata-mata jangkauan antarbenua, pengaruh historis, atau besarnya struktur organisasi, melainkan kualitas persekutuan yang diwujudkan dalam kehidupan bersama. Menjadi gereja yang mendunia berarti menolak anggapan bahwa ada bagian dari tubuh Kristus yang dapat diabaikan atau dianggap tidak penting.

Persekutuan yang Mengakui Martabat dan Penderitaan Sesama

Bertolak dari gambaran Alkitab tentang satu tubuh dengan banyak anggota, Pdt. Jacklevyn menekankan bahwa perbedaan merupakan bagian dari persekutuan, bukan alasan untuk menciptakan hierarki. Setiap anggota saling membutuhkan, setiap pribadi memiliki martabat, dan penderitaan satu bagian tubuh semestinya menjadi perhatian seluruh persekutuan.

Perspektif ini penting dalam membangun relasi gereja Indonesia dan Belanda. Sejarah panjang hubungan kedua pihak tidak boleh membuat kemitraan terjebak dalam pola lama yang menempatkan satu pihak sebagai pemberi dan pihak lain sebagai penerima. Sebaliknya, kemitraan perlu mengakui kesetaraan, pengalaman, pengetahuan, serta kontribusi masing-masing gereja.

Pdt. Jacklevyn juga menggarisbawahi bahwa martabat manusia harus mendahului kepentingan program misi. Berangkat dari pemahaman manusia sebagai gambar Allah (imago Dei), pelayanan gereja tidak boleh memperlakukan orang lain sekadar sebagai objek pertobatan, penerima bantuan, atau sasaran ambisi kelembagaan. Misi gereja merupakan partisipasi dalam karya Allah yang mendamaikan dan menghadirkan kehidupan, dengan tetap menghormati martabat serta kebebasan setiap manusia.

Indonesia Bukan Sekadar Penerima, Melainkan Mitra yang Memberi

Dalam presentasinya, Pdt. Jacklevyn F. Manuputty menegaskan bahwa gereja-gereja Indonesia memiliki kontribusi penting bagi persekutuan ekumenis global. Pengalaman hidup dalam kemajemukan agama dan budaya, pengembangan teologi kontekstual, daya hidup jemaat, serta praktik membangun perdamaian merupakan sumber pembelajaran yang dapat dibagikan kepada gereja-gereja di negara lain.

Pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa gereja dapat menjalankan panggilannya di tengah perbedaan tanpa harus mengisolasi diri dari masyarakat. Identitas Kristen justru dapat bertumbuh melalui perjumpaan, tanggung jawab sebagai warga negara, penghormatan terhadap kebebasan beragama, serta keterlibatan dalam memperjuangkan keadilan dan perdamaian.

Salah satu contoh yang diangkat adalah bakubae, praktik perdamaian yang dikenal dalam konteks masyarakat Ambon. Pengalaman ini memperlihatkan pentingnya prakarsa masyarakat yang mengalami konflik dalam membangun kembali kehidupan bersama. Dukungan dari pihak luar dapat memperkuat proses tersebut, tetapi tidak dapat menggantikan prakarsa dan kepemilikan komunitas setempat.

Prinsip ini menjadi dasar kemitraan timbal balik: bukan bertindak untuk pihak lain semata, melainkan berjalan dan bertindak bersama mereka. Dengan demikian, gereja-gereja Indonesia tidak hanya menerima sumber daya dari mitra internasional, tetapi juga menyumbangkan pengalaman, kebijaksanaan, dan praktik pelayanan yang memperkaya kehidupan gereja sedunia.

Dekolonisasi kemitraan: berbagi kuasa dan pengetahuan

Persoalan sejarah misi juga menjadi perhatian penting dalam pemikiran Pdt. Jacklevyn F. Manuputty. Ia mengajak gereja-gereja menceritakan sejarah pengutusan dari kedua sisi, mengakui solidaritas yang pernah terbangun, sekaligus menyebut luka yang dihasilkan oleh relasi kuasa yang tidak setara.

Pengakuan sejarah bukan dimaksudkan untuk mewariskan rasa bersalah atau mempertahankan posisi sebagai korban. Sebaliknya, ingatan yang jujur dapat membebaskan kedua pihak dari beban masa lalu dan membuka jalan bagi relasi yang lebih setara.

Dekolonisasi kemitraan, karena itu, harus diwujudkan melalui perubahan kelembagaan, bukan berhenti sebagai retorika. Hal ini mencakup pembagian kewenangan dalam pengambilan keputusan, transparansi dan akuntabilitas keuangan, serta pengakuan terhadap pengetahuan lokal dan kearifan masyarakat sebagai sumber teologi, penelitian, pendidikan, dan kesaksian publik.

Kemitraan yang setara juga menuntut keterlibatan nyata gereja-gereja Indonesia dalam menentukan prioritas, mengelola sumber daya, serta merumuskan arah program bersama. Kesetaraan tidak cukup dinyatakan dalam dokumen, tetapi harus terlihat dalam tata kelola dan praktik pengambilan keputusan.

Solidaritas yang Melampaui Batas Kelembagaan

Bagi Pdt. Jacklevyn, panggilan ekumenis tidak berhenti pada kantor sinode atau organisasi gereja. Ekumenisme menjadi nyata ketika jemaat, komunitas lokal, dan lembaga pendidikan terlibat dalam menjawab persoalan masyarakat. Pelayanan pemberdayaan ekonomi, pendidikan bagi komunitas rentan, advokasi ekologis, serta pembangunan perdamaian merupakan contoh konkret bagaimana persekutuan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Perhatian khusus juga diberikan pada generasi muda. Partisipasi mereka tidak boleh berhenti sebagai kehadiran simbolis dalam pertemuan gerejawi. Generasi muda perlu memperoleh ruang untuk berbagi kewenangan, mengambil keputusan, dan menjalankan kepemimpinan. Sebagai pelaku penting dalam ruang publik digital, mereka memiliki pengalaman dan perspektif yang dibutuhkan gereja untuk menjawab perubahan zaman.

Panggilan solidaritas tersebut semakin mendesak ketika gereja berhadapan dengan penderitaan di Papua. Pdt. Jacklevyn menegaskan melalui bahan presentasinya bahwa tidak ada bagian dari tubuh Kristus yang penderitaannya boleh dianggap sebagai urusan pihak lain semata. Solidaritas harus diwujudkan melalui perlindungan kehidupan warga sipil, pendampingan kemanusiaan dan perdamaian, kesediaan mendengarkan langsung suara gereja serta komunitas Papua, dan advokasi yang bertanggung jawab berdasarkan bukti.

Persekutuan juga melampaui batas hubungan antarmanusia. Ciptaan—tanah, air, dan seluruh makhluk hidup—termasuk dalam rumah tangga Allah. Karena itu, kemitraan gerejawi perlu mengembangkan tanggung jawab bersama untuk melindungi kehidupan dan merawat lingkungan.

Berjalan Bersama Menuju Masa Depan

Menutup refleksinya, pemikiran Pdt. Jacklevyn mengarahkan kemitraan gereja Indonesia–Belanda pada enam komitmen: melakukan penegasan bersama sebelum menentukan proyek, membangun kewenangan dan tata kelola timbal balik, mengembangkan misi yang berakar pada komunitas lokal, mempraktikkan pertukaran pengetahuan teologis dua arah, melindungi kehidupan dan ciptaan bersama, serta membangun relasi yang melampaui pendanaan.

Pesan utamanya jelas: ukuran kemitraan yang berhasil bukanlah banyaknya kegiatan atau besarnya dana yang dikelola, melainkan kualitas tanggung jawab bersama yang dihasilkan. Gereja yang mendunia adalah gereja yang bersedia berjalan bersama, mendengarkan suara yang kerap diabaikan, dan memastikan tidak ada anggota tubuh Kristus yang ditinggalkan.

Bagi PGI, perspektif ini menegaskan panggilan gereja untuk membangun persekutuan yang menghadirkan keadilan, perdamaian, dan pengharapan. Dari kemitraan yang diwarisi sejarah menuju tanggung jawab bersama bagi masa depan, gereja dipanggil untuk menghadirkan kesaksian yang nyata di tengah dunia yang terluka dan terfragmentasi. (EDP)

Berikan Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *

Komentar *
Nama Lengkap *
Email *
Website
(optional)

Berita & Peristiwa
Pdt. Mery Y. Kolimon: Gereja Indonesia–Belanda Perlu Membongkar Wari...
by admin 14 Oct 2026 19:47

UTRECHT, BELANDA, PGI.OR.ID — Sejarah misi Kristen di Indonesia menyimpan warisan pelayanan yang patut disyu...

Ketua Umum PGI Tegaskan Gereja yang Mendunia Harus Menghadirkan Solida...
by admin 14 Oct 2026 15:45

UTRECHT, BELANDA — Dalam pemaparannya di hari kedua konferensi gereja Indonesia–Belanda bertema Growing in...

Majelis-majelis Agama dan Kepercayaan Soroti Formasi Guru Agama dan RU...
by admin 14 Oct 2026 09:54

JAKARTA,PGI.OR.ID-Merespons penetapan pemerintah soal formasi 57.000 guru agama di 2027, serta mengkonsolidasi...