Pdt. Mery Y. Kolimon: Gereja Indonesia–Belanda Perlu Membongkar Warisan Kolonial dan Membangun Kemitraan Setara
admin
14 Oct 2026 19:47
UTRECHT, BELANDA, PGI.OR.ID — Sejarah misi Kristen di Indonesia menyimpan warisan pelayanan yang patut disyukuri, sekaligus meninggalkan persoalan teologis dan relasi kuasa yang masih memengaruhi kehidupan gereja hingga kini. Karena itu, membangun kemitraan gereja Indonesia dan Belanda pada masa depan menuntut keberanian untuk membaca sejarah secara jujur, mengakui ketimpangan masa lalu, dan memperbarui praktik misi agar semakin setara, kontekstual, dan berpihak pada kehidupan.
Pesan tersebut disampaikan Pdt. Mery Y. Kolimon dalam pemaparan bertajuk The Echoes from the Past: Pembelajaran Sejarah Misi Masa Lalu untuk Relasi Misi Ekumenis Gereja-Gereja Belanda dan Indonesia, pada konferensi Growing in Partnership: Learning from the Past, Challenged by the Present and Fit for the Future di Utrecht, Belanda, Senin (12/10/2026).
Konferensi yang berlangsung pada 12–15 Oktober 2026 ini diselenggarakan dalam rangka peringatan 100 tahun yayasan Het Lijndensche Fonds voor Kerk en Zending, bekerja sama dengan Protestant Church in the Netherlands (PKN) dan Kerk in Actie. Forum tersebut mempertemukan perwakilan gereja Indonesia dan Belanda, lembaga pendidikan teologi, lembaga Alkitab, serta organisasi ekumenis untuk merefleksikan sejarah bersama dan merumuskan arah kemitraan yang relevan bagi masa depan.
Mendengar Gema Sejarah Secara Kritis
Menggunakan metafora gema, Pdt. Mery menjelaskan bahwa sejarah misi bukan sekadar peristiwa yang telah berlalu. Pemikiran dan praktik masa lalu terus memantulkan pengaruhnya dalam kehidupan gereja masa kini. Ada warisan yang perlu disyukuri dan dikembangkan, tetapi ada pula kekeliruan serta keterbatasan yang harus dikenali dan diperbaiki bersama.
Berangkat dari pengalamannya di Nusa Tenggara Timur (NTT), wilayah yang memiliki sejarah panjang perjumpaan dengan Kekristenan, ia mengingatkan bahwa penyebaran agama Kristen di Indonesia berlangsung dalam konteks sejarah yang berkaitan erat dengan perdagangan, kolonialisme, dan ekspansi kekuasaan. Karena itu, sejarah misi tidak dapat dipahami hanya sebagai kisah keberhasilan penyebaran Injil, tanpa memperhatikan konteks sosial dan politik yang menyertainya.
Pdt. Mery tetap mengakui kontribusi para misionaris yang dengan tekun mengajar iman Kristen, membentuk komunitas jemaat, serta mempelajari bahasa dan kebudayaan masyarakat setempat. Penelitian tokoh-tokoh seperti Middelkoop di Timor, Wielenga di Sumba, Krayer van Aalst di Seram, dan Albert Kruyt di Sulawesi Tengah bahkan meninggalkan jejak penting bagi studi bahasa, budaya, dan antropologi hingga sekarang.
Namun, penghargaan terhadap pelayanan tersebut tidak berarti sejarah harus diterima tanpa kritik. Gereja perlu membedakan warisan yang menghidupkan dari pola pikir dan praktik yang justru menghambat persekutuan serta kesaksian gereja di tengah masyarakat majemuk.

Membongkar Warisan Teologi Misi Kolonial
Salah satu sorotan utama Pdt. Mery adalah warisan teologi misi yang membentuk hierarki dalam pemahaman tentang pelayanan gereja. Ia merujuk pada kebijakan misi yang membedakan pelayanan utama, seperti pemberitaan Firman dan sakramen, dari pelayanan pembantu, termasuk kesehatan dan pemberdayaan ekonomi.
Pola pikir tersebut masih dapat ditemukan ketika pelayanan pendidikan, kesehatan, advokasi hak asasi manusia, pemberdayaan ekonomi, dan kepedulian ekologis dipandang sebagai kegiatan tambahan, bukan bagian utuh dari panggilan gereja. Padahal, misi gereja mencakup persekutuan (koinonia), pelayanan kasih (diakonia), kesaksian (marturia), dan peribadahan (liturgia).
Menurut Pdt. Mery, pemahaman misi yang utuh perlu diwujudkan dalam praktik jemaat, bukan hanya tercantum dalam dokumen teologis atau kebijakan gereja. Gereja dipanggil terlibat dalam karya Allah Tritunggal yang menciptakan, menyelamatkan, dan membarui seluruh ciptaan.
Warisan kolonial juga terlihat dalam sikap terhadap agama lain dan kebudayaan lokal. Pemahaman yang menempatkan agama lain sebagai sesuatu yang sesat dan budaya setempat sebagai sesuatu yang harus dimusnahkan telah meninggalkan prasangka yang dampaknya masih terasa. Sikap semacam ini dapat menghambat dialog antaragama dan membuat masyarakat kehilangan penghargaan terhadap identitas budayanya sendiri.
Karena itu, pengembangan teologi kontekstual dan lintas budaya menjadi penting. Gereja perlu mengkritisi cara pandang yang merendahkan tradisi lokal serta memperbarui relasi dengan masyarakat adat, terutama ketika mereka menghadapi diskriminasi dan stigma.
Dari Hubungan Kolonial Menuju Kemitraan Setara
Pdt. Mery mengidentifikasi sejumlah perkembangan yang membuka peluang bagi pembaruan kemitraan gereja Indonesia dan Belanda. Perubahan hubungan politik kedua negara, pertumbuhan kesadaran ekumenis global, kemajuan teknologi komunikasi, serta pengalaman kerja sama melalui Kerk in Actie menjadi faktor penting dalam membangun relasi yang lebih setara.
Dalam perkembangan gerakan misi global, hubungan yang dahulu dipahami sebagai relasi antara gereja induk dan gereja anak, atau antara pusat misi dan wilayah misi, semakin bergeser menuju kemitraan antargereja yang setara. Perubahan lanskap kekristenan dunia, termasuk pertumbuhan gereja-gereja di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, memperkuat kesadaran bahwa setiap gereja memiliki pengalaman dan kontribusi bagi misi bersama.
Meski demikian, ketimpangan ekonomi global masih menjadi hambatan. Gereja Indonesia terkadang masih memandang gereja Eropa sebagai pemberi bantuan, sementara gereja di Eropa dapat merasa memiliki keunggulan dalam sumber daya keuangan, pemikiran teologis, dan keterampilan pelayanan.
Pola pikir pemberi dan penerima ini perlu diubah. Kemitraan sejati menempatkan kedua pihak sebagai rekan yang saling belajar, berbagi sumber daya, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan manusia serta seluruh ciptaan, khususnya mereka yang miskin dan tertindas.
Pdt. Mery juga mendorong penguatan hubungan langsung antargereja dan antarjemaat di kedua negara. Peran Kerk in Actie tetap penting sebagai fasilitator, tetapi perlu disertai pengembangan relasi church to church atau congregation to congregation agar persekutuan, kesaksian, dan pelayanan kasih dapat bertumbuh secara nyata.
Misi Bersama yang Berpihak pada Kelompok Rentan
Ke depan, kemitraan gereja Indonesia–Belanda perlu berorientasi pada pelayanan yang transformatif, bukan sekadar mempertahankan hubungan historis. Pdt. Mery mengusulkan agar kerja sama diarahkan pada perubahan yang berdampak bagi kehidupan manusia, mulai dari pemulihan personal hingga pembaruan struktur sosial yang tidak adil.
Prinsip penting yang ditawarkannya adalah mission from and with the margin, yakni misi yang berangkat dari dan berjalan bersama mereka yang berada di pinggiran. Kelompok rentan tidak cukup ditempatkan sebagai penerima manfaat, tetapi harus dilibatkan sebagai subjek yang memiliki suara, pengetahuan, dan kemampuan menentukan masa depannya.
Ia juga menyoroti perlunya memperluas kesempatan pertukaran akademik dan studi teologi antara Indonesia dan Belanda. Selama ini, kesempatan mahasiswa Indonesia belajar di Belanda telah berkembang, tetapi mahasiswa Belanda juga perlu memperoleh ruang lebih besar untuk mempelajari konteks gereja dan masyarakat Indonesia. Kerja sama akademik pun perlu menjangkau sekolah-sekolah teologi di luar Pulau Jawa agar pertukaran pengetahuan tidak terkonsentrasi pada lembaga tertentu.
Bagi Pdt. Mery, masa depan kemitraan tidak ditentukan oleh seberapa kuat gereja mempertahankan bentuk hubungan lama, melainkan oleh kesediaannya melakukan pembaruan. Sejarah perlu diingat dengan jujur, bukan untuk terjebak dalam romantisme atau saling menyalahkan, melainkan untuk membebaskan kedua pihak dari beban masa lalu dan membangun tanggung jawab bersama.
Dengan demikian, kemitraan gereja Indonesia–Belanda dapat menjadi ruang perjumpaan yang memperkuat persekutuan, memperluas kesaksian, dan menghadirkan pelayanan yang transformatif. Misi bersama menemukan maknanya ketika gereja berjalan bersama mereka yang rentan, memperjuangkan keadilan, menghormati keberagaman, dan turut mewujudkan kehidupan yang lebih bermartabat bagi semua. (EDP)
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
Pdt. Mery Y. Kolimon: Gereja Indonesia–Belanda Perlu Membongkar Wari...
UTRECHT, BELANDA, PGI.OR.ID — Sejarah misi Kristen di Indonesia menyimpan warisan pelayanan yang patut disyu...
Ketua Umum PGI Tegaskan Gereja yang Mendunia Harus Menghadirkan Solida...
UTRECHT, BELANDA — Dalam pemaparannya di hari kedua konferensi gereja Indonesia–Belanda bertema Growing in...
Majelis-majelis Agama dan Kepercayaan Soroti Formasi Guru Agama dan RU...
JAKARTA,PGI.OR.ID-Merespons penetapan pemerintah soal formasi 57.000 guru agama di 2027, serta mengkonsolidasi...

