Preloader
PGI.OR.ID

Alamat

Jalan Salemba Raya No. 10
Jakarta Pusat (10430)

Hotline

021-3150451

021-3150455

021-3908118-20

Alamat Email

mailto:info@pgi.or.id

PGI Berbagi Praktik Baik Pengurangan Risiko Bencana dalam Workshop Mission 21 Asia di Kupang

Thumbnail
Author

admin

05 Jun 2026 17:52

Share:

 

KUPANG, PGI.OR.ID – Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) mengambil bagian dalam Regional Workshop Mission 21 Asia bertema “Strengthening Good Governance for Inclusive Climate Resilience, Gender Equality, and Community Development” yang berlangsung di Hotel Harper, Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 2–5 Juni 2026. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Mission 21 Regional Coordination Office Asia dengan Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) sebagai tuan rumah dan panitia lokal.

PGI mengutus tiga peserta dalam kegiatan tersebut, yaitu Wakil Sekretaris Umum PGI Pdt. Lenta Enny Simbolon, Sekretaris Eksekutif Bidang Kesaksian dan Keutuhan Ciptaan PGI Pdt. Johan Kristantara, serta Asisten Biro Pengurangan Risiko Bencana (PRB) PGI Herman Agustinus. Workshop diikuti sekitar 60 peserta yang berasal dari berbagai organisasi mitra Mission 21 di Indonesia dan Malaysia, serta perwakilan Mission 21 dari Basel, Swiss, dan Kantor Regional Asia di Jakarta.

Acara dibuka pada Selasa (2/6) dengan ibadah dan seremoni pembukaan yang dihadiri Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Samuel B. Pandie, Sekretaris Umum Sinode GMIT Pdt. Lay Abdi K. Wenyi, Asisten I Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur Alexon Lumba, serta anggota DPD RI Daerah Pemilihan NTT Ir. Abraham Paul Liyanto. Kehadiran para pemimpin gereja, pemerintah, dan lembaga mitra menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjawab tantangan perubahan iklim, pengurangan risiko bencana, serta pembangunan masyarakat yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Hari pertama workshop difokuskan pada penguatan tata kelola organisasi (good governance). Para peserta memperoleh pemaparan mengenai mekanisme pengelolaan proyek dan program dalam kaitannya dengan peran Sectoral Programme Coordinator (SPC), isu-isu audit dan akuntabilitas, serta perkembangan terkini rencana pendirian Yayasan Mission 21 di Indonesia. Sesi-sesi tersebut dibawakan secara bergantian oleh Lucy Saudale Theuer, Samuel Imbach, Karmila Jusup, Yulison Marpaung, Wawan Gunawan, dan Pdt. Ratna Lesawengen. Melalui diskusi ini, para peserta diajak memperkuat pemahaman mengenai transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola yang baik sebagai fondasi kemitraan dan pelaksanaan program.

Pada hari kedua, perhatian peserta diarahkan pada relasi antara hak asasi manusia, keadilan sosial, dan pengurangan risiko bencana. Sesi teologis mengenai Land Rights and Human Rights linked to PSEAH and Gender Diversity disampaikan oleh Prof. Yusak Setyawan, Prof. Septemmy Lakawa, dan Aan Anshori, dengan Wawan Gunawan sebagai moderator. Para narasumber menggarisbawahi pentingnya penghormatan terhadap martabat manusia, hak atas tanah, perlindungan terhadap kelompok rentan, serta komitmen untuk mencegah eksploitasi, pelecehan, dan kekerasan dalam seluruh praktik pelayanan dan pendampingan masyarakat.

Masih pada hari yang sama, peserta mengikuti diskusi mengenai pengurangan risiko bencana yang menghadirkan perspektif pemerintah, gereja, dan masyarakat sipil. Narasumber dalam sesi ini adalah Ir. Abraham Paul Liyanto dari DPD RI, Pdt. Saneb Blegur selaku Wakil Ketua Majelis Sinode GMIT, dan Norman Riwu Kaho, Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana Provinsi NTT. Diskusi menyoroti pentingnya membangun ketahanan masyarakat menghadapi bencana dan dampak perubahan iklim melalui kerja sama lintas sektor.

Salah satu sesi yang mendapat perhatian peserta adalah Sharing Best Practices yang menampilkan pengalaman Badan Kebencanaan Sinode GMIT, alumni Workshop Good Governance dan Disaster Risk Reduction (GG & DRR) di Palangkaraya, serta Biro Pengurangan Risiko Bencana PGI. Dalam sesi ini, Herman Agustinus bersama Pdt. Lenta Enny Simbolon mempresentasikan sejumlah praktik baik yang telah dikembangkan PGI, yaitu: (1) Workshop Pembelajaran Koordinasi Respons Tanggap Darurat Bencana Sumatera; (2) Workshop Pembahasan Draft Mekanisme Tanggap Darurat dan Pelatihan Pengelolaan Pos Terpadu Tanggap Darurat; serta (3) Penyusunan Buku Panduan Praktis Ketahanan Keluarga Menghadapi Krisis. Ketiga inisiatif tersebut menunjukkan komitmen PGI dalam memperkuat kapasitas gereja dan masyarakat untuk membangun ketahanan keluarga dan komunitas di tengah berbagai krisis global yang saling berkaitan, mulai dari konflik geopolitik, krisis energi, pangan, ekonomi, hingga perubahan iklim.

PGI menegaskan bahwa keluarga merupakan basis ketahanan yang paling mendasar dalam menghadapi berbagai krisis. Karena itu, penguatan kesiapsiagaan keluarga, pengelolaan sumber daya secara bijaksana, serta perlindungan terhadap kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, lanjut usia, dan penyandang disabilitas menjadi bagian penting dari upaya pengurangan risiko bencana. Ecclesia Domestica, Spiritualitas Keugaharian, dan Spiritualitas Penyintas menjadi jiwa yang mendasari panduan tersebut. Dalam perspektif PGI, gereja memiliki peran strategis sebagai penggerak ketahanan komunitas melalui pendidikan, pendampingan, dan penguatan solidaritas jemaat.

Pada hari ketiga, peserta mendalami tema Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) melalui pemaparan Ketua Komisi Nasional Disabilitas, Dante Rigmalia. Sesi ini menegaskan pentingnya memastikan bahwa kebijakan, program, dan pelayanan gereja maupun organisasi masyarakat benar-benar inklusif dan memberi ruang bagi partisipasi kelompok-kelompok yang selama ini sering mengalami marginalisasi.

Workshop kemudian dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke sejumlah lokasi di Kupang dan sekitarnya, antara lain Kelompok Hutan Mangrove Pokmas Dalek Esa, Komunitas Rumah Tenun Pengharapan Dendeng Noelbaki, Yayasan Alfa Omega di Desa Tarus, Sekolah Citra Bangsa, serta Rumah Harapan Gemainti di Oebufu. Melalui kunjungan ini, para peserta memperoleh kesempatan untuk melihat secara langsung praktik-praktik pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan isu lingkungan, penguatan ekonomi komunitas, pendidikan, dan inklusi sosial.

Partisipasi PGI dalam workshop ini merupakan bagian dari komitmen untuk terus memperkuat pelayanan gereja-gereja di Indonesia dalam bidang keutuhan ciptaan, pengurangan risiko bencana, ketahanan iklim, dan keadilan sosial. Melalui forum pembelajaran bersama ini, PGI berharap dapat terus memperluas jejaring kerja sama, memperkaya pengalaman lintas konteks, serta memperkuat kontribusi gereja dalam membangun komunitas yang tangguh, inklusif, dan berdaya menghadapi berbagai tantangan di masa depan. (JK-HA)

 

Berikan Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *

Komentar *
Nama Lengkap *
Email *
Website
(optional)

Berita & Peristiwa
PGI Berbagi Praktik Baik Pengurangan Risiko Bencana dalam Workshop Mis...
by admin 05 Jun 2026 17:52

KUPANG, PGI.OR.ID – Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) mengambil bagian dalam Regional Workshop M...

Pdt. Jacklevyn Manuputty: PGI Tegaskan Ekumenisme Harus Menjawab Krisi...
by admin 05 Jun 2026 09:23

CHIANG MAI, PGI.OR.ID—Dalam rangkaian International Consultation on “Ecumenism in Asia: Emerging Ecclesia...

Universitas Kristen Maranatha dan Universitas Kristen Palangka Raya Ja...
by admin 05 Jun 2026 09:07

JAKARTA, PGI.OR.ID--Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi dunia pendidikan tinggi di Indonesia, khususnya...