Preloader
PGI.OR.ID

Alamat

Jalan Salemba Raya No. 10
Jakarta Pusat (10430)

Hotline

021-3150451

021-3150455

021-3908118-20

Alamat Email

mailto:info@pgi.or.id

Seminar Teologi di IAKN Manado, Sekum PGI: Terang bagi Bangsa Dimulai dari Rumah

Thumbnail
Author

admin

20 Aug 2026 09:40

Share:

MANADO,PGI.OR.ID-Terang itu dapat dimulai dari rumah, lalu bergerak menuju gereja, masyarakat, republik, dan tanggung jawab terhadap seluruh ciptaan. Pernyataan tersebut disampaikan Sekretaris Umum PGI, Pdt. Darwin Darmawan, dalam seminar teologi yang mengangkat tema Arah Berteologi Gereja-Gereja di Indonesia bagi Pemulihan Bangsa dan Keutuhan Ciptaan, di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado, pada Rabu (19/8/2026). Selain menjadi narasumber dalam seminar, kehadiran Sekum PGI juga dalam rangka visitasi oikoumenis ke kampus teologi.  

Kegiatan yang dihadiri oleh sivitas akademika IAKN Manado, serta sejumlah gereja dan lembaga pendidikan teologi ini, menjadi ruang bersama untuk merefleksikan kembali panggilan gereja di tengah tantangan bangsa dan krisis ekologis.

Sebagaimana subtema seminar, Hiduplah sebagai Terang: Mewujudkan Ecclesia Domestica dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045, Pdt. Darwin Darmawan dalam refleksinya menegaskan bahwa Indonesia Emas 2045 bukan semata-mata persoalan masa depan. Indonesia 2045 sedang dibentuk melalui cara manusia hidup hari ini. Generasi yang akan memimpin Indonesia pada 2045 sedang dibentuk sekarang, dimulai dari rumah. “Karena itu, panggilan “Hiduplah sebagai Terang” merupakan panggilan yang dimulai dari ruang paling dekat, yakni keluarga, namun tidak berhenti di sana. Terang bergerak dari rumah menuju gereja, masyarakat, bangsa, dan seluruh ciptaan,” tandasnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, Ecclesia Domestica tidak boleh direduksi hanya sebagai praktik ibadah keluarga. Rumah merupakan tempat seseorang pertama kali belajar bagaimana kekuasaan digunakan, bagaimana perbedaan diterima, konflik diselesaikan, sumber daya dibagikan, mereka yang lebih lemah diperlakukan, serta bagaimana tanggung jawab terhadap milik bersama dijalankan.

Karena itu, keluarga memiliki konsekuensi publik yang besar. Manusia yang kelak hadir sebagai warga negara, pemimpin, pejabat, pengusaha, maupun profesional membawa habitus yang dibentuk dari berbagai ruang kehidupan, termasuk keluarga. “Dari rumah lahir warga republik,” demikian gagasan yang ditekankan Pdt. Darwin.

Integritas publik, lanjutnya, membutuhkan akar domestik: kebiasaan berkata benar, menghormati perbedaan, membatasi kekuasaan, mendengarkan orang lain, bertanggung jawab terhadap milik bersama, serta berani menolak sesuatu yang salah. Pdt. Darwin juga mengajak gereja-gereja di Indonesia untuk melihat kembali arah berteologi. Teologi tidak cukup hanya menghasilkan pengetahuan mengenai apa yang benar, tetapi harus menubuh dalam kehidupan umat.

Menurutnya, ukuran teologi bukan hanya apakah sebuah gagasan benar secara doktrinal, melainkan apakah kebenaran itu menghasilkan kebaikan, membangun relasi yang lebih adil, menumbuhkan keberanian untuk mengatakan kebenaran, memulihkan kehidupan, serta membuat manusia semakin bertanggung jawab terhadap sesama dan ciptaan.

Dalam konteks Indonesia Emas 2045, gereja juga dipanggil untuk memperluas makna kemajuan. Indonesia yang diharapkan bukan hanya Indonesia yang maju secara ekonomi, teknologi, dan infrastruktur, tetapi juga semakin adil, manusiawi, partisipatif, damai, dan lestari. Karena itu, gereja dipanggil untuk bersikap positif tanpa menjadi naif, kritis tanpa menjadi sinis, kreatif tanpa merasa menjadi penyelamat, serta realistis tanpa kehilangan pengharapan.

Sikap kritis terhadap pemerintah, lanjut Pdt. Darwin, juga tidak identik dengan sikap anti-pemerintah. Gereja dapat bekerja sama dengan pemerintah bagi kepentingan masyarakat, sekaligus mempertahankan jarak profetis ketika harus menyampaikan kritik terhadap ketidakadilan.

Arah Berteologi Gerakan Oikoumene 
Sebelumnya, Pdt. Prof. Dr. Julianus Mojau, M.Th., Guru Besar IAKN Toraja sekaligus Ketua Umum PGIW Maluku Utara, membahas arah berteologi gerakan ekumene keindonesiaan melalui Dokumen Keesaan Gereja (DKG).

Ia menjelaskan, DKG memiliki kekayaan gagasan teologis, eklesiologis, misiologis, sekaligus dimensi pastoral yang kuat. Sejak pembentukan Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (DGI), gereja-gereja di Indonesia telah bergumul dengan pertanyaan bagaimana kekristenan dapat “menubuh” bersama masyarakat Indonesia yang majemuk.

Pergumulan tersebut terus mengalami perkembangan. Pada dekade 1950-an hingga 1990-an, upaya gereja menubuhkan kekristenan dalam masyarakat majemuk Indonesia sangat dipengaruhi paradigma modernisme. Namun, perkembangan pergumulan gereja dalam berbagai Sidang Raya kemudian membawa kesadaran baru bahwa paradigma modernisme juga memiliki konsekuensi, antara lain ketidakadilan struktural dan kerusakan ekologis. “Gereja-gereja di Indonesia mulai menyadari dan mulai membicarakan secara amat serius” persoalan tersebut, ujar Pdt. Mojau.

Ia juga menyoroti perkembangan paradigma teologi gereja-gereja di Indonesia yang sebelumnya sangat kuat bercorak Kristosentris. Dalam perkembangan terakhir, gereja mulai memberi ruang yang lebih kuat bagi perspektif Trinitaris, termasuk dalam pergumulan teologis sejak Sidang Raya di Waingapu hingga Toraja.

Perkembangan tersebut, menurut Pdt. Mojau merupakan bagian penting dari kekayaan perjalanan teologi gereja-gereja di Indonesia, terutama dalam mewujudkan gereja Kristen yang esa di Indonesia dan menubuhkan kekristenan di tengah masyarakat majemuk dengan orientasi pada keadilan sosial dan ekologis.

Sementara itu, Rektor IAKN Manado, Dr. Olivia Cherly Wuwung, S.T., M.Pd., dalam sambutan pembukaan menyampaikan harapannya agar perjumpaan antara PGI dan sivitas akademika IAKN Manado dapat mendorong pendidikan teologi yang semakin kontekstual, kritis, konstruktif, dan transformatif, terutama dalam menghadapi berbagai polikrisis yang tengah dihadapi bangsa. “Harapan kami melalui kegiatan seminar dan juga visitasi dari PGI saat ini bahwa pendidikan teologi dapat semakin kontekstual, kritis, konstruktif, dan transformatif,” ungkap Olivia.

Menurutnya, pendidikan teologi tidak dapat dilepaskan dari panggilan untuk bersama-sama dengan gereja membangun bangsa. Karena itu, perjumpaan tersebut diharapkan tidak hanya memperkaya gereja-gereja, tetapi juga memperkuat pendidikan teologi di Indonesia. Apresiasi juga diberikan kepada PGI yang telah memberikan kesempatan kepada IAKN Manado menjadi tuan rumah. Ia menyebut seminar dan visitasi tersebut sebagai langkah strategis dalam mengimplementasikan kerja sama antara IAKN Manado dan PGI.

Ketua Panitia sekaligus Ketua Program Studi S2 Pendidikan Agama Kristen IAKN Manado, Dr. Rolina Anggereany Ester Kaunang, S.Th., M.Pd.K., menyampaikan bahwa kegiatan diikuti sekitar 300 peserta. Mereka berasal dari sekitar sembilan sinode anggota PGI Wilayah Sulawesi Utara dan Tengah, dua sekolah tinggi teologi, yakni STT Germita dan UKIT Tomohon, serta  dan dosen IAKN Manado.

Rolina menilai visitasi oikoumenis PGI memiliki arti penting bagi sivitas akademika karena mempertemukan refleksi teologi dengan realitas pelayanan gereja. “Harapannya melalui kegiatan visitasi oikoumenis seperti yang dilakukan oleh PGI saat ini menolong dosen dan mahasiswa bukan hanya memahami teologi secara konseptual, tapi mewujudnyatakannya dalam kehidupan nyata di setiap pelayanan karya masing-masing,” katanya.

Antusiasme juga datang dari peserta. Rudianto Yohanes, mahasiswa pascasarjana IAKN Manado, menilai materi yang disampaikan memberikan wawasan luas mengenai arah gereja saat ini, termasuk pemahaman tentang Ecclesia Domestica. Menurutnya, materi yang disampaikan Pdt. Darwin maupun Pdt. Mojau memberikan perspektif yang relevan bagi gereja dan jemaat. “Kegiatan seperti ini harus terus dikembangkan, baik di bagian akademik, maupun dalam jemaat” ujarnya.

Sedangkan Agnes Poli, mahasiswa Pascasarjana IAKN Manado, mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai panggilan keluarga Kristen. Ia menangkap pesan penting bahwa keluarga Kristen tidak hanya dipanggil untuk membentuk pribadi-pribadi yang saleh, tetapi juga menjadi komunitas yang ikut membangun keutuhan ciptaan dan kehidupan bersama di Indonesia.

Bagi Agnes, pesan tersebut memperluas cara pandang tentang keluarga Kristen: iman tidak berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi harus diwujudkan dalam tanggung jawab terhadap bangsa dan seluruh ciptaan.

Memperkuat Kemitraan PGI dan IAKN Manado

Rangkaian kegiatan ditutup dengan penandatanganan Implementation Agreement (IA) antara PGI dan IAKN Manado sebagai tindak lanjut kerja sama kedua lembaga. Penandatanganan dilakukan oleh Sekretaris Umum PGI, Pdt. Dr. Darwin Darmawan, bersama Direktur Pascasarjana IAKN Manado, Pdt. Dr. Wolter Weol, S.Th., M.Pd, yang disaksikan oleh oleh Rektor IAKN Manado, Dr. Olivia Cherly Wuwung, serta Pdt. Meizisita Herlina, Kepala Bidang Keesaan dan Pembaruan Gereja PGI, dan Alfian Komimbin, Kepala Biro Penelitian dan Pengembangan PGI.

Penandatanganan tersebut menegaskan bahwa kerjasama antara PGI dan IAKN Manado tidak berhenti pada seminar, tetapi juga diarahkan pada penguatan kerja sama yang lebih konkret dalam pendidikan teologi, pengembangan pemikiran gereja, serta pelayanan bagi gereja dan masyarakat. (NA)

 

Berikan Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *

Komentar *
Nama Lengkap *
Email *
Website
(optional)

Berita & Peristiwa
LAPORAN KEUANGAN TANGGAP DARURAT GEMPA FLORES Per 20 Agustus 2026
by admin 20 Aug 2026 14:40

Laporan Dana Darurat Respons Gempa Flores merupakan bentuk transparansi dan pertanggungjawaban PGI atas dukung...

Pdt. Ira Imelda: Gereja Dipanggil Menjadi Terang dari Rumah hingga ke ...
by admin 20 Aug 2026 13:45

KLATEN, PGI.OR.ID — Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menegaskan pentingnya kehadiran gereja yang...

Bimtek Pengelolaan Rumah Ibadat TNI AU, Wasekum PGI Dorong Rumah Ibada...
by admin 20 Aug 2026 11:36

JAKARTA, PGI.OR.ID — Rumah ibadat tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ibadah, tetapi juga memil...