Preloader
PGI.OR.ID

Alamat

Jalan Salemba Raya No. 10
Jakarta Pusat (10430)

Hotline

021-3150451

021-3150455

021-3908118-20

Alamat Email

mailto:info@pgi.or.id

Hari Anak Nasional 2026 “Aku Berharga, Aku Bertumbuh Utuh”

Thumbnail
Author

Oleh: Admin

22 Jul 2026 15:20

Share:

Hari Anak Nasional 2026
“Aku Berharga, Aku Bertumbuh Utuh”
(Dalam kasih Allah, gereja berjalan bersama anak untuk merawat martabat, suara, dan harapan di tengah keberagaman pengalaman hidupnya.)

Kejadian 1:27; Mazmur 139:14a

Salam kasih dalam Kristus,

Hari Anak Nasional (HAN) adalah sebuah momentum yang mengingatkan kita bahwa anak bukan sekadar generasi penerus, aset masa depan, atau harapan bagi bangsa dan gereja. Lebih dari itu, sesungguhnya anak adalah pribadi yang berharga sejak semula, sebab setiap anak hadir sebagai manusia utuh yang Allah ciptakan menurut gambar dan rupa-Nya. Dalam Kejadian 1:27 tertulis, “Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia.” Firman ini menegaskan bahwa setiap manusia, termasuk setiap anak, adalah Imago Dei: gambar Allah yang hidup di antara kita. Senada dengan itu, Mazmur 139:14, “Aku bersyukur kepada-Mu sebab aku dijadikan dengan dahsyat dan ajaib,” mengajak kita melihat kehidupan manusia sebagai karya Allah yang dahsyat dan ajaib.

Dengan dasar iman ini, gereja dipanggil untuk melihat anak bukan sebagai objek pelayanan semata, melainkan sebagai subjek yang hadir, bersuara, bertumbuh, bermartabat, dan turut mengambil bagian dalam kehidupan bersama. Keberhargaan anak tidak ditentukan oleh kondisi tubuhnya, kemampuannya, prestasinya, latar belakang keluarganya, status hukumnya, pengalaman hidup yang pernah dilaluinya, atau apakah anak memenuhi harapan orang dewasa. 

Anak berharga karena Allah telah lebih dahulu mengasihinya. Karena itu, ketika anak berada dalam konflik, hidup di tengah perang, berhadapan dengan hukum, mengalami kekerasan, hidup dengan disabilitas, bergumul dengan kesehatan mental, atau bertumbuh dalam keluarga dan lingkungan yang rentan, gereja dipanggil untuk tidak menambah luka melalui stigma, penghakiman, dan pengabaian, melainkan untuk berjalan bersama anak dalam ruang yang aman, teduh, inklusif, dan penuh kasih.

Demikian juga ketika kita memandang anak-anak yang hidup di tengah situasi konflik dan kekerasan, termasuk anak-anak yang hidup di Tanah Papua. Mereka bukan sekadar bagian dari kelompok rentan, bukan pula sekadar data dalam laporan pengungsian atau dampak konflik. Mereka adalah gambar Allah yang hidup, pribadi bermartabat, subjek hak, dan anak-anak yang kehidupan, suara, rasa aman, serta harapannya harus sungguh-sungguh dijaga. Karena itu, setiap kebijakan dan tindakan di Tanah Papua perlu menempatkan kepentingan terbaik bagi anak sebagai pertimbangan utama. Hak anak untuk hidup, bertumbuh, belajar, bermain, beribadah, menyampaikan suara, serta memperoleh perlindungan dari segala bentuk kekerasan tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan apa pun. Di tengah situasi yang melukai ruang hidup anak, gereja dipanggil untuk hadir sebagai komunitas yang berpihak pada kehidupan, merawat kemanusiaan, dan meneguhkan martabat setiap anak.

Di sinilah gereja dipanggil menjadi ruang aman bagi setiap anak, termasuk bagi anak-anak yang hidup di Tanah Papua. Gereja tidak boleh menambah luka melalui stigma, penghakiman, atau pengabaian, melainkan turut menghadirkan pemulihan agar setiap anak dapat kembali mengenali martabat, suara, rasa aman, dan harapannya. Dengan demikian, setiap anak dapat mengatakan, “Aku berharga, aku boleh bersuara, dan aku bertumbuh utuh dalam kasih-Nya.” Dalam kerangka yang lebih luas, tema Hari Anak Nasional 2026 yang diusung pemerintah, “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan,” mengingatkan kita semua untuk memastikan bahwa setiap anak memperoleh haknya, bertumbuh dalam lingkungan yang aman, serta memiliki akses dan kesempatan untuk mengembangkan potensi dirinya.

Gereja dapat turut berperan dalam menanamkan nilai dalam hidup umat bahwa luka batin tidak menghapus keberhargaan anak, situasi konflik dan perang tidak membatalkan martabat anak, disabilitas tidak mengurangi keutuhan anak, dan masa lalu tidak menutup kemungkinan bagi pertumbuhan hidupnya. Upaya pemulihan bagi anak juga bukan berarti menganggap anak rusak dan perlu “diperbaiki”, melainkan sebagai upaya bersama untuk merawat kembali ruang hidup yang telah terluka, agar anak dapat mengenali kembali martabat, suara, rasa aman, dan harapannya. 

Maka, pada HAN 2026 ini, gereja-gereja perlu meneguhkan kembali panggilan bersama: menjadi komunitas yang berjalan bersama anak, mendengar suara anak, menghormati hak anak, serta merawat ruang aman bagi anak di keluarga, gereja, masyarakat, dan ruang digital. Sebagai satu tubuh Kristus, marilah kita bersama anak-anak Sekolah Minggu dan remaja di gereja-gereja menyatukan hati dalam doa bagi anak-anak dan remaja di Tanah Papua, agar mereka mengalami perlindungan, pemulihan, rasa aman, dan harapan untuk bertumbuh utuh dalam kasih Allah.

 

Biro Keluarga dan Anak PGI

Berikan Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *

Komentar *
Nama Lengkap *
Email *
Website
(optional)

Berita & Peristiwa
Perkuat Pelayanan Gereja untuk Advokasi Pekerja Migran, PGI Selenggara...
by admin 22 Jul 2026 15:52

JAKARTA, PGI.OR.ID-Kasus Pekerja Migran Indonesia (PMI) pada 2026 didominasi oleh maraknya pengiriman ilegal, ...

Hari Anak Nasional 2026 “Aku Berharga, Aku Bertumbuh Utuh”
by Admin 22 Jul 2026 15:20

Hari Anak Nasional 2026“Aku Berharga, Aku Bertumbuh Utuh”(Dalam kasih Allah, gereja berjalan bersama anak ...

Peletakan Batu Pertama Tandai Pembangunan Rumah Duka dan Krematorium T...
by admin 21 Jul 2026 21:11

JAKARTA,PGI.OR.ID-Peletakan batu pertama menandai pembangunan Rumah Duka dan Krematorium Tabitha PGI Cikini ha...