Preloader
PGI.OR.ID

Alamat

Jalan Salemba Raya No. 10
Jakarta Pusat (10430)

Hotline

021-3150451

021-3150455

021-3908118-20

Alamat Email

mailto:info@pgi.or.id

Di Tengah Tekanan Sosial dan Digital, PGI Dorong Gereja Hadir sebagai Komunitas Terapeutik

Thumbnail
Author

admin

31 Mar 2026 08:53

Share:

 

JAKARTA,PGI.OR.ID-Dunia saat ini tidak lagi ditandai oleh perubahan sosial yang bersifat linear, tetapi eksponensial. Teknologi digital berkembang cepat, nilai‑nilai sosial bergeser, dan tekanan psikologis meningkat. Anak, dan keluarga berada di tengah pusaran perubahan yang sering kali membingungkan dan melelahkan.

Kondisi ini berdampak pada tereduksinya kesehatan mental dan spiritual anak dan remaja. Fenomena kecemasan, depresi, isolasi sosial, hingga tindakan melukai diri menunjukkan bahwa banyak anak dan remaja sedang bergumul dalam kesunyian yang tidak selalu terlihat oleh orang dewasa di sekitarnya (ToR).

Dalam kondisi ini gereja harus hadir sebagai komunitas terapeutik (mewartakan Allah yang memulihkan/menyembuhkan). Komunitas yang menolong seseorang kembali pada keadaan yang sehat dan utuh. 

Hal tersebut ditegaskan Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty di webinar hari kedua (Selasa, 31/3/2026), yang diinisiasi oleh Biro Keluarga dan Anak (BKA) PGI, dengan tema Mendampingi Anak dan Remaja Menghadapi Ideologi Ekstrem: Peran Keluarga, Gereja, dan Sekolah.

“Dalam perspektif teologi pastoral, gambaran Alkitab tentang Allah sebagai penyembuh (Yhwh Rophe’) memberikan pondasi teologis yang esensial bagi pelayanan gereja terhadap keluarga dan anak di tengah perubahan sosial kontemporer,” tandasnya.

Lebih jauh dijelaskan Pdt. Jacky Manuputty, penguatan gereja sebagai komunitas terapeutik harus nampak melalui tiga pilar yang menopang kehadiran gereja secara empirik (sumber daya), yaitu institusi, pelayan dan umat. “Namun pertanyaannya sejauhmana kita menakar kesiapan gereja? Apakah dari sisi gereja secara institusional telah ditegaskan paradigma terapeutik terhadap keluarga dan anak dalam produk-produk kebijakan gereja? Sebagai para pelayan gereja memiliki kapasitas terapeutik yang baik di tengah tantangan kontemporer yang semakin kompleks? Dan apakah umat/jemaat telah membentuk pola relasi terapeutik yang baik dalam relasi antarindividu maupun kelompok sebagai satu keluarga Allah?,” katanya

Dia menegaskan, Gereja melanjutkan karya pemulihan Allah dalam keluarga dan anak-anak yang rentan dan terluka. Menghadapi berbagai krisis kontemporer, keluarga membutuhkan gereja sebagai ruang pembelajaran relasi yang sehat, terutama di tengah tekanan sosial dan digital. Hal ini tak bisa dicapai melalui khotbah semata, tetapi juga tindakan solidaritas gereja yang holistik.

Dari perspektif keluarga, Dosen Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), Junianawaty Suhendra, Ph.D melihat bahwa keluarga memiliki peran penting dalam melindungi anak-anak dari paparan ideologi ekstrem.  “Kondisi saat ini memang sedang tidak baik-baik saja. Kita sedang menghadapi tantangan adanya ideologi ekstrem yang tidak bisa hadapi dengan biasa-biasa saja. Sebab itu harus direspon juga dengan secara radikal, lewat pengawasan, dan pengajaran yang harus terus-menerus dilakukan oleh keluarga kepada anak-anak. Ulangan 6:1-9 menurut saya menjadi amanah dalam merespon persoalan ini,” tandasnya.

Ketua Komisi Keluarga dan Anak PGI ini mengingatkan perlunya keluarga mengikuti apa yang dicanangkan oleh PGI, yaitu Ecclesia Domestica. “Ecclesia domestica atau rumah sebagai gereja, ini yang harus dilakukan oleh keluarga Kristen. Sekarang keluarga banyak diisi oleh lintas generasi, perlu dipikirkan bagaimana merajutnya dengan baik. Salah satunya melalui persekutuan bersama. Pengenalan, dan penguatan melalui firman Tuhan merupakan kekuatan yang sejati,” jelas Junianawaty Suhendra.

Pada kesempatan itu, Anggota Bidang Digitalisasi dan Inovasi MPK, Marisi Uli Simanjuntak, secara khusus menyoroti peran sekolah dalam mendampingi anak dan remaja menghadapi ideologi ekstrem, dengan melakukan tindakan preventif dan kuratif. Tindakan preventif dapat dilakukan antara lain melalui program edukasi, kegiatan  seminar dan workshop integrasi dengan kurikulum aktivitas berbasis games, spiritual deep-work, project kelompok, dan tutor sebaya.

Webinar yang dimoderatori oleh Kepala Biro BKA PGI, Equivalent Pangasi Rajagukguk, mendapat respon positif dari para peserta. Tidak hanya pertanyaan, mereka (peserta, red), juga menyampaikan masukan, dalam rangka mewujudkan kesadaran kolektif bahwa perlindungan anak dan remaja dari krisis mental serta paparan ideologi ekstrem sebagai tanggung jawab bersama antara keluarga, gereja, sekolah, negara, dan masyarakat. (MS)

 

Berikan Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *

Komentar *
Nama Lengkap *
Email *
Website
(optional)

Berita & Peristiwa
"Ngopi Kerukunan" di PGI: Agama-agama Suarakan Perdamaian dan Keberpih...
by admin 01 Apr 2026 21:48

JAKARTA,PGI.OR.ID-PGI melalui Bidang Kesaksian dan Keutuhan Ciptaan (KKC) menginisiasi kegiatan Ngopi Kerukuna...

Di Tengah Tekanan Sosial dan Digital, PGI Dorong Gereja Hadir sebagai ...
by admin 31 Mar 2026 08:53

JAKARTA,PGI.OR.ID-Dunia saat ini tidak lagi ditandai oleh perubahan sosial yang bersifat linear, tetapi ekspo...

PGI Gelar Webinar Kerentanan Mental-Spiritual Anak dan Remaja dalam Me...
by admin 30 Mar 2026 07:55

JAKARTA,PGI.OR.ID-Di tengah dunia digital yang kompleks, anak dan remaja tak hanya bertumbuh, mereka juga rent...