Preloader
PGI.OR.ID

Alamat

Jalan Salemba Raya No. 10
Jakarta Pusat (10430)

Hotline

021-3150451

021-3150455

021-3908118-20

Alamat Email

mailto:info@pgi.or.id

"Ngopi Kerukunan" di PGI: Agama-agama Suarakan Perdamaian dan Keberpihakan kepada Korban

Thumbnail
Author

admin

01 Apr 2026 21:48

Share:

JAKARTA,PGI.OR.ID-PGI melalui Bidang Kesaksian dan Keutuhan Ciptaan (KKC) menginisiasi kegiatan Ngopi Kerukunan dengan mengusung tema Agama Sebagai Pembawa Damai: Peran Tokoh Agama di Tengah Ketegangan dan Konflik Global, di Grha Oikoumene, Jakarta, pada Rabu (1/4/2026).

Acara yang dikemas secara santai namun sarat makna ini, menghadirkan narasumber Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty (Ketua Umum PGI), K.H. Dr. Marsudi Syuhud (Wakil Ketua MUI), Bunyan Saptomo (Ketua MUI Bid. Hub. Luar Negeri), Mayjen TNI (Purn.) Wisnu Bawa Tenaya (Ketua Umum PHDI), Broto Wardoyo, Ph.D (Dosen Geopolitik UI), dan Desi Fitriani (Jurnalis Spesialis Wilayah Konflik).

Ngopi kerukunan bertujuan membangun ruang dialog lintas iman untuk merefleksikan dan memperkuat peran tokoh agama dalam meneguhkan suara perdamaian, merawat solidaritas kemanusiaan, serta membangun resiliensi masyarakat di tengah meningkatnya konflik dan ketegangan global.

Dalam sambutannya, Wakil Sekretaris Umum PGI, Pdt. Lenta Enni Simbolon menyampaikan terima kasih kepada para narasumber, serta undangan yang hadir mewakili lembaga lintas agama, lembaga gerejawi, PGIW, pimpinan gereja, aktivis, akademisi, media, serta mitra interfaith PGI.  

Lebih jauh disampaikan bahwa tema yang diangkat dalam acara ini merupakan keprihatinan bersama dari agama-agama di Indonesia yang merindukan kedamaian dan kesejahteraan bersama, dan rasa keprihatinan atas ketegangan yang terjadi di Timur Tengah dan Asia Selatan.

“Konflik yang berkepanjangan itu telah merenggut banyak korban anak-anak, perempuan dan mereka yang rentan, kehilangan tempat tinggal bahkan masa depan, dan hari ini kita berkumpul di Grha Oikoumene PGI sebagai tokoh agama, kita semua dipanggil untuk menjadi teladan bagi kaum yang lemah,” ujarnya. 

Pdt. Lenta Enni Simbolon berharap melalui pertemuan ini membawa makna yang dalam bagi kita semua, yang menegaskan bahwa suara agama-agama adalah suara perdamaian, serta menjadi tanda komitmen bersama bahwa seluruh agama-agama di Indonesia berpihak kepada yang lemah, yang rentan dan menderita, serta komitmen untuk menjadi pembawa perdamaian. 

Pada kesempatan itu, K.H. Dr. Marsudi Syuhud menegaskan bahwa perang pada dasarnya merupakan bagian dari kezaliman yang harus dihentikan, karena ajaran agama mendorong umat menolak segala bentuk kekerasan dan lebih memilih jalan damai. “Dalam prinsip agama, yang harus dihentikan bukan hanya perang, melainkan juga segala bentuk kezaliman. Perang itu salah satu bentuknya,” ujarnya. 

Dia menambahkan, nilai-nilai keagamaan secara universal mengajarkan pentingnya menjaga kemanusiaan, melindungi yang lemah, serta menghindari kerusakan yang lebih luas. Karena itu, seruan stop perang bukan sekadar sikap politik, tetapi juga panggilan moral. Sebab itu, tugas agama-agama adalah menyuarakan perdamaian.

Sementara itu, Bunyan Saptomo, mengingatkan agar masyarakat Indonesia tidak terjebak dalam polarisasi dengan membela pihak-pihak tertentu secara emosional. “Tidak perlu kita ikut-ikutan membela negara tertentu, apakah itu Amerika, Iran, atau Israel. Itu justru bisa memperkeruh keadaan,” tegasnya.

Seharusnya, lanjut mantan Duta Besar Indonesia untuk Bulgaria ini, yang menjadi fokus adalah korban konflik dan nilai keadilan, bukan keberpihakan sempit yang berpotensi memecah belah. “Yang harus kita bela adalah yang lemah, yang tertindas, korban dari konflik itu,” lanjutnya.

Hal senada juga disampaikan Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty. Menurutnya tidak ada satu agama pun yang diuntungkan dengan adanya konflik. Apa yang terjadi di Timur Tengah membawa polarisasi yang sangat tinggi, termasuk di Indonesia, yang jika tidak dikelola dalam dialog-dialog, akan semakin mempertajam persoalan.

Dia pun menegaskan bagaimana pendekatan berbasis korban perlu menjadi perhatian kita. Karena dalam negosiasi-negosiasi di mana kekerasan dikedepankan dan menjadi pilihan utama, pertimbangan moralitas agama dalam perang dilewati habis-habisan. “Apa yang bisa kita resonansikan adalah korban sebagai dampak dari peperangan itu. Kemanusiaan yang hancur, dan kemudian korban kerap kali tidak mendapat tempatnya untuk hidup,” tegasnya.

PGI, lanjut Pdt. Jacky Manuputty, telah beberapa kali mengeluarkan pernyataan sikap terkait eskalasi kekerasan yang terjadi di Timur Tengah, yang sejalan dengan sikap yang lembaga-lembaga gerejawi dunia, seperti WCC, Mennonite World Conference, LWF, dan CCA, yang menaruh keprihatinan yang sama. 

Dari perspektif akademisi, Broto Wardoyo, Ph.D mengingatkan bahwa tidak mudah untuk melihat apa sesungguhnya yang terjadi di Timur Tengah, karena ada kekuatan besar yang berkelindan dan selalu ada kepentingan. Dia pun menegaskan bahwa konflik yang terjadi tidak ada kaitannya dengan agama. 

Diakhir acara, MPH-PGI meluncurkan buku MEMPERJUANGKAN KEADILAN, MERAWAT KERUKUNAN. Perjalanan Bersama Agama-agama dan Kepercayaan Menuju Indonesia yang Adil dan Rukun. Buku tersebut dibagi-bagikan kepada para narasumber serta perwakilan lembaga yang hadir. (MS)

 

Berikan Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *

Komentar *
Nama Lengkap *
Email *
Website
(optional)

Berita & Peristiwa
"Ngopi Kerukunan" di PGI: Agama-agama Suarakan Perdamaian dan Keberpih...
by admin 01 Apr 2026 21:48

JAKARTA,PGI.OR.ID-PGI melalui Bidang Kesaksian dan Keutuhan Ciptaan (KKC) menginisiasi kegiatan Ngopi Kerukuna...

Di Tengah Tekanan Sosial dan Digital, PGI Dorong Gereja Hadir sebagai ...
by admin 31 Mar 2026 08:53

JAKARTA,PGI.OR.ID-Dunia saat ini tidak lagi ditandai oleh perubahan sosial yang bersifat linear, tetapi ekspo...

PGI Gelar Webinar Kerentanan Mental-Spiritual Anak dan Remaja dalam Me...
by admin 30 Mar 2026 07:55

JAKARTA,PGI.OR.ID-Di tengah dunia digital yang kompleks, anak dan remaja tak hanya bertumbuh, mereka juga rent...